Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Utama
Kulit Imigran Mengelupas
By redaksi
Senin, 08-Maret-2010, 07:53:05 142 clicks Send this story to a friend Printable Version

MERAK-Sekitar 35 anak imigran asal Srilanka yang masih tertahan di Pelabuhan Merak Mas, Indah Kiat, Merak, Kota Cilegon, terserang penyakit kulit.
Kulit mereka tampak mengelupas di sekujur tubuh dan memerah. Dalam waktu lama, kulit mereka yang mengelupas itu meninggalkan bekas berwarna kehitam-hitaman.
Latief (21), salah satu imigran mengatakan, kondisi ini sudah terjadi sejak lebih satu bulan. Namun, kali ini jumlah anak yang menderita penyakit kulit terus bertambah.
Ia menduga, kondisi ini dipicu lantaran seringnya mandi menggunakan air laut dan terkena sinar matahari. Tak hanya itu, kulit anak-anak terlihat kering bahkan gatal-gatal. “Kasian anak-anak kulitnya rusak karena mengelupas. IOM sudah bawa mereka ke rumah sakit tapi tetap saja belum sembuh,” ujar Latief, Minggu (7/3).
Tak hanya itu, penyakit lain pun menyerang sebagian imigran dewasa. Mayoritas terserang sakit kepala dan demam. Latief menyatakan, saat ini sebagian besar para pencari suaka tidur di tenda-tenda yang berdiri di dekat kapal kargo yang mereka tumpangi untuk berlayar ke Pulau Natal (Christmas Island).
Sebanyak 12 tenda telah berdiri. Dengan dihuni 10 orang per tenda. Penghuni tenda lebih diprioritaskan bagi anak-anak dan imigran yang menyertakan keluarga mereka.
“Hampir semua teman kami (sesama imigran ilegal Srilanka-red) terserang penyakit. Saya juga sudah tidak kuat lagi tinggal di dalam kapal,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur RSUD Cilegon dr Zainoel Arifin yang dikonfirmasi menduga, penyakit kulit yang menyerang anak-anak suku Tamil itu karena alergi dengan sinar matahari dan air laut.
“Mungkin karena mereka tidak terbiasa mandi dengan air laut dan sering kontak langsung dengan matahari juga bisa membuat kulit melepuh dan mengelupas. Bisa jadi mereka alergi,” terangnya.
MELARIKAN DIRI
Sementara juru bicara imigran Alex diduga melarikan diri dari kapal kargo yang ditumpangi. “Alex sudah tidak ada. Tidak tahu ke mana, dia sudah tidak ada di kapal,” ujar Latief, salah satu imigran.
Ia mengaku tidak tahu sudah berapa lama Alex meninggalkan rekan-rekannya sesama imigran. Latief baru mendengar kabar tersebut dari sesama rekannya beberapa hari lalu.
“Saya benar-benar tidak tahu soal kepergian Alex, begitu juga yang lain. Tapi Alex sudah lama pergi kurang lebih 10 hari lalu,” tegasnya.
Hal senada dikatakan Robi (25) rekan Latief. Robi mengatakan, tidak tahu menahu alasan Alex meninggalkan ratusan rekannya yang masih bertahan di pesisir pantai Pelabuhan Merak.
“Yang perlu diketahui, Alex bukan pemimpin kita dan tidak tahu kenapa dia (Alex,red) pergi,” terangnya.
Kepala Divisi Imigrasi Kanwil Dephum HAM Banten Harry Purwanto saat dihubungi mengenai kaburnya Alex justru memilih bungkam. Dengan alasan bukan tupoksi Imigrasi, Harry memilih tak memberikan komentar.
“Maaf jangan tanya saya. Itu bukan kapasitas saya untuk berbicara. Mohon pengertiannya,” ujar Harry singkat.
Kaburnya Alex pun tak diketahui oleh Satgas Penanganan Imigran Ilegal. Ketua Satgas Penanganan Ilegal yang juga Wamenlu Triyono Wibowo yang dihubungi justru belum mendengar kabar tersebut. “Saya belum tahu info itu dan segera akan kami cek dulu kebenarannya,” jawabnya. (fal)
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link