Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
DILEMA SANG CALEG
By redaksi
Minggu, 26-April-2009, 06:02:58 413 clicks Send this story to a friend Printable Version
“Jangan lupa saudara-saudara! Pilih saya, Arman Azhari caleg nomor satu. Contreng nama saya.
Oleh: Rama Safra’i Rachmat
Percayalah saudara-saudara. Jika saya terpilih nanti, saya akan menjanjikan perubahan, mengurangi pengangguran, mengentas kemiskinan, sekolah gratis, anti korupsi, perekonomian lebih baik. Ingat saudara-saudara pilih saya, caleg paling bersih, berpengalaman, bertanggung jawab, berani, berpendidikan, baik hati dan tidak sombong…..”
Zakia menutup kedua lubang telingannya saat berdiri di depan pintu sebuah kamar. Ocehan ngawur Bapaknya yang sedari kemerin itu sudah cukup membuat pusing kepala gadis belia itu. Parahnya lagi, Pak Arman, Caleg peserta pemilu dari sebuah partai baru itu semakin tidak bisa dikendalikan emosinya.
Berawal dari tanggal 11 April yang lalu, setelah mendapatkan laporan seluruh saksi-saksi utusanya yang di tempatkan di berbagai TPS tanggal 9 April, Pak Arman hanya memperoleh suara minim dari seluruh TPS, jauh dari target.
Sontak Pak Arman shock mendengarnya. Pak Arman sempat marah-marah dan meluapkan kekecewaan kepada semua orang yang ada. Seketika itu pula, tiba-tiba nafas Pak Arman mendadak sesak dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Setelah sadarkan diri, Pak Arman kembali menanyakan kepastian suara yang diperolehnya. Pak Arman menduga pasti ada pihak-pihak lain yang berbuat curang. Pasti ada kecurangan! Pak Arman sangat optimis sekali suara yang diperolehnya mencapai puluhan ribu suara. Tidak mungkin jika hanya mendapatkan puluhan suara saja! Mustahil kah?
Selanjutnya, Pak Arman hanya bisa mengoceh tanpa henti meski tubuhnya yang gembul itu tergolek lemah di tempat tidurnya. Segala macam dugaan terus menghambur dari mulutnya. Sialnya lagi, tak ada seorang pun datang berkunjung sejak kejadian pingsannya Pak Arman itu, baik para simpatisan, pengurus parpol, maupun para kader dan tim sukses. Hingga rumah berlantai 2 itu terlihat sepi tak seperti biasanya.
Rumah Pak Arman memang hampir selalu didatangi banyak orang, hampir tak ada tenggat waktu lengang. Dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi dini hari lagi. Apalagi saat masa kampanye terbuka, 24 jam penuh rumah selalu ramai oleh para kader yang entah berapa ratus orang itu yang berikrar akan mencari sebanyak-banyaknya masa untuk mendukung Pak Arman. Jelas jika banyak orang yang berdatangan, karena Pak Arman sangat royal memberikan apapun yang dimintak para kader dan tim suksesnya.
1 milyar lebih uang tabungan yang sudah ludes untuk dana selama kampanye. Belum lagi lembaran-lembaran sertifikat tanah yang digadaikan yang harga nominalnya hingga ratusan juta. Hutang kepada para kolega menumpuk tidak kepalang. Entah sekarang kemana jumlah uang yang tidak sedikit itu menguap. Harusnya uang milyaran rupiah itu bisa menghantarkannya ke gedung DPR di Senayan.
Pak Arman tertekan hebat. Energi dan pikirannya terkuras habis selama waktu kampanye. Nominal uang yang menggunung telah raib tanpa hasil. Sedari awal Pak Arman tampil dengan optimis dan penuh ambisius. Bahkan ritual gaib diluar logika pun dijalankan di tempat-tempat yang dikeramatkan, seperti bersemedi di Gunung Karang saat malam jumat keliwon dan berendam di kali keramat saat bulan purnama, para dukun tersohor dikunjunginya, berbagai benda pusaka dikantonginya demi menambah kepercayaan diri. Demi memenuhi ambisinya pula, berbagai jalan dilakukannya demi menjegal para rivalnya. 2 orang pejabat ternama yang menjadi rival terberat telah ditaklukan dengan kiriman santet yang membuat mereka mundur dari panggung politik.
Tak hanya itu, hal klasik seperti money politic selalu gencar di setiap kesempatan. Seperti pengerahan masa kampanye yang ratusan orang itu dibayar 30 ribu per kepala. Serangan fajar yang menghabiskan puluhan juta rupiah. Belum lagi para kader yang mengusulkan bantuan kepada masyarakat selama kampannye, seperti pemberian pesawat televisi disetiap pangkalan ojeg, memberikan peralatan musik bagi para seniman rebana, memberikan pakaian seragam kepada para ibu-ibu majelis taklim, membagikan sembako kepada warga miskin yang dikunjunginya, memberi sumbangan cukup besar kepada masjid-masjid dan lain sebagainya.
Wajar jika Pak Arman shock berat mengetahui hasil suara yang di perolehnya yang tidak sesaui dengan target menjadi bolah panas yang menghantam kepalannya sendiri. Optimis dan kepercayaan diri yang berlebih menjadi bumerang tersendiri yang menerkam tubuhnya yang belum siap menerima kekalahan. Impianya menduduki kursi empuk legislatif di Senayan menguap tak berbekas. Hanya impian dan buayan setan yang menaungi pikiran gelapnya.
“Asep, Duki, Latif…. Kemana kalian? Kalian harus mencari sebanyak-banyaknya masa. Beri mereka uang asalkan mereka mau memilih saya….” Teriak Pak Arman lagi dari dalam kamarnya.
Tetes air mata mengalir di pipi halus Zakia. Gadis 15 tahun itu merasa prihatin dengan kondisi Bapaknya kini. Ia sangat mencintai Bapaknya. Itu alasan ia tetap bertahan menjaga dengan sabar Bapak tercintanya sendiri dan di temani oleh seorang sopir pribadi. Sedangkan Ibunya yang malu pergi dengan 2 anak yang lainya entah kemana. Orang-orang yang dulu mengerubungi Pak Arman tak pernah lagi ada yang menampakan diri hanya sekedar menjenguk atau memberikan dukungan moril.
“Kasihan Bapak,” isak Zakia kepada Pak Dul yang masih setia menemaninya.
“Sabar, Neng, kita harus kuat menghadapi cobaan ini.”
“Dimana uang saya? Dimana?! Dimana uang saya!....” teriak histeris Pak Arman. Kadang pula Pak Arman menangis sendiri, tertawa terbahak-bahak, menjerit, mengamuk…..
Zakia memeluk Pak Dul. Gadis cantik yang selalu dimanjakan oleh Bapaknya itu begitu terluka hatinya. Tidak menyangka jika gadis belia itu menanggung beban atas Bapaknya kini. Tak apa. Zakia terima dengan ikhlas. Rasa cintanya takan pudar dengan situasi apapun.
“Seharian ini, Bapak belum makan,” kata Pak Dula sambil membawakan sepiring makanan dan segelas air mineral diatas nampan. Zakia mengambil nampan. Pak Dul merogoh saku kemejanya, mengambil sebuah kunci pintu.
Perlahan Pak Dul membukakan pintu kamar sang caleg. Zakia berdiri gemetar di ambang pintu. Menatap prihatin kondisi Bapaknya yang tak terlihat terhormat lagi. Dengan langkah gemetar dengan penuh keberanian di hati, Zakia mendekat.
“Bapak, makan dulu ya. Zakia bawakan makanan kesukaan, Bapak,” rayu Zakia dengan kesedihan yang tertahan.
“Makan?!” tanya Pak Arman dengan bentakan keras.
“Iya, Zakia yang suapin. Bapak harus makan. Karena hari ini Bapak akan kampanye di hadapan ribuan simpatisan pendukung Bapak yang sudah menunggu di lapangan. Bapak mau ya makan? Biar ada tenaga untuk berorasi.”
Pak Arman mengangguk. “Iya, saya lupa hari ini ada kampanye,” katanya dengan penuh semangat dan ada senyum kebanggaan.
Zakia mengajukan secendok nasi ke mulut Bapaknya yang menganga. Matanya yang nanar tak lagi membendung air mata melihat kondisi Bapaknya yang mengenaskan. Seminggu terkurung sudah dengan kedua belah kaki dan tangan terikat rantai. Sehelai sarung hanya bisa sebagain menutupi aurat. Rambut yang lepek. Tubuh yang anyir keringat dan kotoran sendiri. Zakia mencoba tersenyum, karena ia tahu Bapaknya tak pernah tega melihatnya bersedih.
                                    ***
Kaligandu—Cilegon, 16 April 2009
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link