Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
Ayah Bolehkah Aku Marah Pada Tuhan?
By redaksi
Minggu, 19-April-2009, 05:35:25 478 clicks Send this story to a friend Printable Version
MALAM merangkak pelan. Hujan yang turun dari tadi baru saja berhenti. Tersisa harum tanah basah dan angin yang merangsek masuk melalui celah dinding.

Oleh: Ferry Fauzi Hermawan
Mardi dan Abi, anaknya, baru saja masuk ke kamar. Mereka memutuskan untuk tidur lebih awal. Kamar itu cukup luas, sekitar enam kali enam meter persegi. Ranjang dari jati bercat coklat terletak di sebelah kanan kamar. Di sisi kirinya, ada dua lemari yang berukuran cukup besar. Satu yang mempunyai cermin dipintunya digunakan untuk menyimpan pakaian. Sedangkan satunya lagi digunakan untuk menyimpan buku dan berkas pekerjaan Mardi.
Malam ini Abi berbaring menyamping ke tembok. Mardi berada di belakangnya sambil mengusap-usap punggung Abi.
“Mau diceritakan apa malam ini, Bi?” kata Mardi lembut. Kemarin malam ia bercerita tentang Nuh dengan air bahnya. Sekarang ia berencana akan bercerita tentang Ibrahim dan bapaknya.
“Terserah ayah saja. Abi mendengarkan.” jawab Abi setengah lalu. Abi sedang terpekur melihat foto dirinya dengan Mardi saat pergi ke arena bermain. Seharusnya bertiga pikir Abi. Ya, bertiga, ada ayah, ibu juga Abi. Tapi ibu, seperti apakah ibu.
“Dahulu kala ada seorang raja yang sangat jahat. Nebukadzebar namanya.” sambil mengelus punggung Abi, Mardi memulai ceritanya. Namun sepertinya Abi tidak tertarik mendengarkan cerita Mardi. Pikirannya melayang, mencoba mengingat semua memori yang dimilikinya. File-file saat Abi kecil dibuka kembali. Semakin ia mencari, yang dicarinya malah pergi. Ah tidak, tidak ada yang bersamanya.
“Hingga akhirnya Ibrahim bertanya-tanya manakah Tuhan itu? Bulankah, mataharikah, bintangkah, gunungkah?” ternyata Mardi sudah jauh bercerita. Abi tidak mengikuti jalan cerita itu. Dimana, dimana ia berada. Abi masih berkutat dengan ingatannya.
“Ayah Tuhan itu ada di mana?” tanya Abi sambil membalikkan badannya. Sekarang ia berhadap-hadapan dengan ayahnya. Sejenak Mardi terkejut mendengar pertanyaan dari Abi.
“Di mana-mana, nak. Di langit, di bumi, di hutan bahkan di kamar ini Tuhan sedang bersama kita.” tutur Mardi lembut. Mardi membetulkan posisi tubuhnya. Ia sekarang bersandar kepada kayu yang berada di ujung kasur.
“Tapi Abi tidak bisa melihatnya!” protes Abi.
“Tidak semua orang diizinkan melihat-Nya. Tapi kita bisa merasakan keberadaannya. Dengan ini!” Mardi menunjuk dadanya, “dengan hatimu nak.”
Mereka berdua terdiam. Suasana menjadi sepi. Hanya tik tok jam yang terdengar dari dinding atas tempat tidur mereka. Lama sekali mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, hingga,
“Kalau Tuhan itu laki-laki atau perempuan?”
“Bukan laki-laki bukan pula perempuan.”
“Lho kok gitu sih?” gugat Abi tak puas.
“Abi, Tuhan itu berbeda dengan kita. Lebih suci dari sekedar mempunyai jenis kelamin. Nanti juga Abi akan mengerti kalau sudah dewasa. Makanya ngajinya yang benar!”
Sebenarnya Mardi ingin mengakhiri perbincangan ini. Mardi takut salah. Apalagi masalah agama. Masalah Tuhan lagi. Sedikit saja salah, neraka menantinya.
“Ayah Tuhan itu baik ya?”
“Tuhan sangat baik.”
“Kalau baik apa buktinya?”
“Tuhan telah menciptakan bumi ini. Tuhan juga menciptakan berbagai kebutuhan manusia. Ada hewan, tumbuhan dan masih banyak lagi. Abi sendiri bisa makan dari ciptaan Tuhan. Betapa baiknya Tuhan pada kita.” Mardi mencoba menjelaskan sesederhana mungkin.
“Jadi Abi juga diciptakan oleh Tuhan? Tuhan itu adil enggak yah?”
“Abi diciptakan oleh Tuhan dan pasti adil kepada setiap makhluknya.”
“Oh…. kalau begitu Tuhan juga dapat berbuat adil pada anak kecil seperti Abi?”
“Walaupun Abi anak kecil, Tuhan pasti berbuat adil pada Abi.”
Abi terdiam mendengar jawaban dari ayahnya. Keningnya mengkerut beberapa kali. Tanganya mulai meremas-remas kain seprai. Ada sesuatu hal yang mengganjal dalam diri Abi.
“Kok aneh ya?” tak percaya Abi bertanya lagi.
“Aneh bagaimana?”
“Iya aneh. Kalau Tuhan itu pernah marah dan berbuat tidak adil enggak sama manusia?”
Mardi heran mendengar pertanyaan dari Abi. Tidak biasa Abi bertanya seperti ini. Apa ada yang salah dengan pelajaran Abi di sekolah, pikir Mardi.
“Sepertinya Tuhan marah dan tidak berbuat adil sama Abi!”
“Lho tidak adil gimana?” desak Mardi.
Sekarang Mardi tidak lagi bersandar. Kini ia duduk, menatap lekat-lekat wajah Abi. Takut ada yang salah dengan anaknya itu.
“Kenapa Abi bisa berpikir seperti itu?” Mardi mulai tak sabar.
“Aneh saja. Mengapa Abi tidak mempunyai ibu seperti orang lain. Teman-teman Abi saja mempunyai ibu. Lihat foto itu, Abi hanya dengan ayah. Kata ayah, ibu sudah meninggal, diambil oleh Tuhan. Mengapa Tuhan hanya mengambil ibu Abi? Ibu dari teman-teman Abi tidak ada yang Tuhan ambil. Tuhan tidak adil. Sepertinya Tuhan marah sama Abi, padahal Abi masih kecil dan tidak pernah berbuat salah pada-Nya!” Abi berbicara sambil menangis.
Tersengat halilintar Mardi mendengar perkataan dari Abi. Urat-urat dikepalanya menegang. Kaki dan tangannya menjadi dingin. Mardi tidak dapat menggerakkan tubuhnya sendiri. Bayangan peristiwa sepuluh tahun yang lalu kini meloncat-loncat di impuls otak mardi. Saling menubruk, berputar dan melayang-layang. Merangsek masuk dan menciptakan sketsa yang sepertinya tidak asing bagi Mardi.
Awalnya sketsa itu buram. Kemudian menjadi jelas, dan lebih jelas lagi. Malam itu, ya malam itu sepuluh tahun yang lalu. Mardi masih muda. Ia baru saja pulang lembur dari pabriknya. Tak ada yang aneh malam itu. Hanya cuacanya sangat dingin seperti malam ini. Ketika ia sampai pertigaan jalan, Mardi mendengar teriakan-teriakan:
“Tibum! Tibum! Tibum!”
Mardi tidak mengerti dan tidak mengetahui asal dari suara itu. Teriakan itu bercampur dengan suara minta ampun. Hingga akhirnya Mardi melihat ada seorang wanita yang bergegas menghampirinya. Wanita itu memakai baju merah pas di badan. Di tambah hot pants sepangkal paha. Rambutnya tergerai panjang. Sedangkan wajahnya bercucuran keringat. Bedak di wajahnya banyak yang terhapus, yang tersisa hanya lipstik merah tebal menutupi bibirnya yang tebal pula.
Wanita itu menggendong seorang bayi. Ia tersimpan dalam kain biru bermotif bunga-bunga. Umurnya sekitar enam bulan. Bayi itu menangis, mungkin takut dibawa lari oleh wanita itu.
“Titip bayi ini sebentar. Nanti saya bawa lagi. Ada tibum!” tanpa meminta jawaban dari Mardi, wanita itu memberikan bayinya ke pangkuan Mardi. Anehnya Mardi tidak berusaha menolak. Ia malah menerimanya begitu saja. Mardi membelai tubuh si bayi agar tangisnya berhenti. Mardi duduk beralaskan sepatu. Ia menunggu ibu dari si bayi untuk kembali. Sampai fajar Mardi menunggu. Namun wanita itu tak pernah muncul lagi. Entah tertangkap, entah memang tak mau kembali. Mardi memutuskan untuk pulang. Lalu ia mengurus si bayi sampai sekarang. Bayi itu dinamakan Abi. Kependekan dari Abimanyu.
“Yah, boleh Abi marah pada Tuhan?”
Saat ini tik tok jam seakan mati. Semua sepi. Tak ada lagi bunyi gemerisik daun yang dipermainkan oleh angin. Semua sunyi. Mardi tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan dari Abi. Mardi hanya menggumam. Gumaman yang tidak dimengerti oleh Abi bahkan dirinya sekalipun.

*Tibum : sebutan bagi Satpol PP
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link