 |
 |
|
 |
 |
|
| News /
Rubrik
/ Budaya |
|
| Surat Penghabisan | | By redaksi |
| Minggu, 12-April-2009, 18:19:44 |
331 clicks |
 |
 |
|
|
| Tanganku gemetar. Napasku tertahan. Pelan-pelan aku membacanya. Air mataku jatuh menetes seirama degup jantungku yang berdetak lamat-lamat. |
|
|
Cerpen Imel Maru
Untuk Sahabatku…
Andai kau membaca surat ini, mungkin aku saat ini sedang terbang bersama Izrail ke tempat penantianku hingga kiamat tiba, nanti. Ah, andai saja tidak ada kesalahpahaman ini. Andai saja…
Sebelumnya aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, tentang semua yang telah kulakukan sehingga membuatmu kesal kepadaku. Aku ingin meminta maaf kepadamu atas semua saat-saat yang tidak menyenangkan bersamaku. Aku ingin meminta maaf atas semua perkataan, tingkah laku, yang pernah menyinggung perasaanmu, baik itu kusadari maupun tidak. Aku tidak ingin kepergianku masih menyisakan luka diantara kita berdua. Karena kau adalah sahabat terbaikku.
Untuk tujuan itulah aku menulis surat ini : menghapuskan kesalahpahaman diantara kita.
Wahai Sahabatku…
Teramat dalam penyesalanku tidak mampu menyelesaikan masalah kita berdua, bukannya aku tidak mau namun kaulah yang tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskannya.
Ingatkah perkataanmu dulu padaku saat malam sebelum pelantikan?
Saat itu kau berkata: “Temanku, betulkanlah perkataanku saat aku salah bicara, ingatkanlah aku saat aku lupa, sentillah kupingku saat aku bertindak keliru, ajaklah aku untuk istighfar saat aku tidak mengindahkan semua nasehatmu. Aku hanya percaya kepadamu karena kau adalah sahabatku,”.
Ketika itu aku sangat terharu atas perkataanmu. Betapa kepercayaanmu kepadaku membuatku merasa tersanjung. Aku berjanji, apapun yang terjadi aku akan menjadi matamu saat kau buta, kupingmu saat kau tuli, kakimu saat kau lumpuh, aku akan senantiasa berada di sampingmu, untuk terus mengingatkanmu. Amanahmu akan kujalankan sebaik-baiknya, karena kau adalah sahabat terbaikku.
Wahat sahabatku…
Ingatkah dirimu beberapa minggu yang lalu, saat kita terlibat dalam perdebatan sengit. Dirimu ketika itu adalah sosok yang jauh berbeda dengan sosok sahabatku yang kukenal. Jiwamu yang bersih rupanya terpengaruh oleh insan-insan materialistis di lingkungan birokrasi yang tengah kau geluti. Jabatanmu yang merupakan amanah dari rakyat telah kau sewenang-wenangkan.
Apakah kau bahagia dengan semua harta yang berhasil kau kumpulkan dengan memanfaatkan jabatanmu itu? Apakah kau tidak nelangsa menyaksikan ribuan orang terdzalimi hak-hak mereka akibat keserakahanmu? Sadarlah kawan. Pikirkanlah saat kau belum menjadi siapa-siapa.
Ingatkah dirimu beberapa tahun yang silam, saat kita berdua masih menjadi mahasiswa? Saat kita berdua tersaruk-saruk di jalanan, mencoba mengais rupiah untuk membiayai kuliah kita karena orang tua kita berdua tidak mampu membiayai kuliah kita. Ingatkah saat beasiswa yang kita harapkan dari Dinas Pendidikan hanya berujung pada penantian tanpa hasil karena uang yang telah dialokasikan sebelumnya telah diselewengkan oleh sejumlah oknum tidak bertanggung jawab? Betapa kecewa dan marahnya kita saat itu. Kau benci sekali pada orang-orang yang telah merampas beasiswa kita tersebut. Ingatkah sumpah serapah yang keluar dari mulutmu ketika itu kepada mereka?
Lihatlah dirimu saat ini kawan. Apakah bedanya dirimu dengan mereka?
Aku tidak bermaksud mengajakmu bernostalgia, namun ini harus kulakukan demi kebaikanmu.
Aku bukannya tidak berbuat apa-apa. Telah banyak cara yang kulakukan untuk menyadarkanmu, untuk meluruskan jalanmu yang sudah jauh menyimpang, namun semua berpulang kepadamu. Rupanya kau lebih mendengarkan bisikan setan dan mengindahkan semua kata-kataku. Dan malam itulah puncaknya. Saat kau menodongkan pistolmu ke arahku, mengancamku dengan puluhan sumpah serapahmu. Aku tidak marah kepadamu kawan. Aku sedih dan prihatin melihat keadaanmu.
Kesedihanku menjadi berlipat-lipat saat mengetahui apa yang kau lakukan terhadap Madaryanto, orang KPK sekaligus sahabat kita berdua. Aku samasekali tidak menyangka kau tega menghabisi nyawa sahabat kita itu, hanya karena ketakutanmu terhadap terbongkarnya korupsi yang kau lakukan. Nuranimu telah hilang kawan.
Kau sudah kelewat menyimpang. Aku tidak mampu membiarkanmu bertindak lebih dari itu. Namun kedatanganku beberapa hari yang lalu ternyata membuat persahabatan kita hancur. Aku hanya ingin mneyadarkanmu, itu saja. Jika akhirnya kau berpikir bahwa aku berniat untuk melaporkan tidakanmu kepada pihak yang berwenang, aku tidak mampu berbuat apa-apa. Pistol yang kau todongkan ke arahku membuatku tidak dapat tidur beberapa hari belakangan ini.
Aku masih percaya bahwa dirimu masih menyisakan hati nurani. Aku masih menaruh harapan yang sangat besar kepadamu, karena kau adalah sahabat terbaikku. Dan aku berharap kau mengganggapku sama. Namun firasatku rupanya berkata lain.
Aku samasekali tidak berniat melaporkan perbuatanmu. Betapapun jauhnya kau menyimpang, aku tidak akan tega melihatmu meringkuk di penjara. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa dalam kurungan jeruji besi, karena kau adalah sahabatku.
Wahat sahabatku…
Aku mengetahui niatanmu untuk menghabisi nyawaku. Aku tidak gentar mengetahui hal tersebut. Setidak-tidaknya aku tidak mati ditangan orang-orang yang tidak kukenal, aku mati di tangan sahabatku sendiri. Aku tidak menyesali apa yang akan terjadi denganku. Aku hanya berharap, semoga kau mampu memetik pelajaran dari semua ini. Semoga Tuhan menyadarkanmu kepada jalan yang haq, jalan yang diridhai olehnya, jalan yang dulu sempat kau perjuangkan.
Wahai sahabatku…
Aku samasekali tidak meyimpan dendam terhadapmu. Aku sudah menganggapmu sebagai belahan jiwa. Sehingga bahagiamu adalah bahagiaku dan kepedihanmu adalah kepedihanku juga. Dan saat kau melakukan kesalahan, aku lah orang yang paling menyesali perbuatanmu.
Dari sahabatmu…
Aku tidak mampu menahan tangisku selepas membaca surat ini. Aku melipat kembali surat itu dan menyelipkannya ke saku. Ringkuk tubuhku tidak tertahan. Gestur pundakku yang naik turun menginisialkan penyesalanku.
Aku menatap kembali wajah sahabatku itu. Ia menyunggil senyum, padaku. Ah, sempat-sempatnya kau tersenyum padaku Sobat. Senyummu itu makin menohok penyesalanku yang berkelindan di dalam dada. Wajah pria yang telah begitu banyak berkorban untukku semasa hidupnya itu tampak begitu teduh. Tampaknya ia memang telah siap menghadapi kematiannya, di tangan sahabatnya yang tidak tahu terima kasih ini.
Aduh Gusti…
Aku tidak mampu membendung tangisku. Sesalku tiada lagi berguna. Tangisku tidak akan mampu mengembalikan dirinya. Pikiranku kembali menerawang ke saat-saat kami berdua masih menjadi mahasiswa, yang idealis dan antusias. Saat kami berdua masih memiliki jiwa-jiwa yang bersih. Ah, hingga akhir hayatmupun kau tetap bersih sobat. Tidak demikian denganku. Aku telah mengecawakanmu. Aku telah mengecewakan idealisme kita berdua.
Arrrrgggggggggghhhhhh….
Hmm…, aku mendapatkan sebuah ide. Lebih baik kuakhiri ini semua, daripada harus menanggung rasa penyesalan yang berlebihan ini, toh ini untuk kebaikan Negara. Setidaknya masih ada yang bisa kuperbuat untuk sedikit membayar kesalahan-kesalahanku di masa yang telah lewat. Daripada aku nanti dihukum di penjara, dan menghabiskan uang Negara untuk membiayai hidupku, lebih baik aku akhiri sebelum itu semua terjadi
Aku tersenyum, sekilas menatap wajah sahabatku yang terbujur kaku di sebelahku. Aku rindu akan wejangan-wejangan darinya. Hmm…
Aku menekuk lutuku. Kuambil kembali pistol yang telah merenggut nyawa sahabatku itu. aku mengacungkannya tinggi-tinggi, berancang-ancang menarik pelatuknya. Aku menahan napas. Kuarahkan tepat moncong pistol ke kepalaku. Aku memejamkan mata. Dan kemudian semua menjadi gelap…
Serang, 9 April 2009
|
|
|
|
 |
 |
|
 |
 |