Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
Jangan Usik Keretaku!
By redaksi
Minggu, 01-Maret-2009, 07:00:37 257 clicks Send this story to a friend Printable Version
Biarlah orang menganggapku rendah, mencari sesuap nasi dari setumpuk sampah dan debu yang melekat dari hasil perbuatan penumpang. Padahal dalam lubuk hatiku, tak ingin aku hidup seperti ini.
Oleh Suci Mufaza
Kepahitan hidup telah membuat Aku dewasa di usiaku yang belum genap tujuh belas tahun.
“Minah, cepat lari ke gerbong lain...ada petugas karcis!,” teriak Ipul membuyarkan lamunanku.
“Biarin aku disini saja. Aku kan cuma pemulung,”
“Pemulung juga tetap dipinta, Minah,”
“Masa sih petugas setega itu sama orang miskin kayak kita? Biasanya juga kita emang nggak pernah bayar kan?”
“Iya tapi sekarang lagi ada razia karcis, ada Om Pol juga!,” Ipul terbata-bata.
“Apa, Polisi??”
Ipul menarik tanganku, dibawanya Aku lari dari gerbong ke gerbong, menembus kerumunan penumpang yang sesak. Kulihat jauh ke belakang, tak hanya kami bahkan para pedagang dan pengamen pun ikut terbirit-birit. Sepintas, adegan ini memang jadi tontonan lucu bagi para penumpang lainnya, kami terbirit-birit seperti tikus dikejar kucing garong. Tapi kami tak sedang melakukan lelucon, kawan. Kondisi ini sangat menakutkan, bila ketahuan tak beli karcis bisa-bisa kami diturunkan seenak dewek oleh para petugas itu. Kapanpun mereka mau, walaupun kereta sedang berjalan. Ya, apalagi alasannya karena mereka tahu kami tak akan punya uang untuk membayar dua kali lipatnya harga karcis, apa lagi harus menebus KTP, punya saja tidak.
Kami terus menerobos manusia-manusia yang berjejalan memenuhi kereta. Begitu sumpek dan padat, jangankan berlari, berjalan, bernafaspun sesaknya minta ampun.
“Pul, sudah kita berhenti di gerbong ini saja. Aku sudah tak kuat, capek banget nih,” kataku ngos-ngosan menghentikan langkah Ipul.
“Duh kenapa sial banget sih, belum dapet duit udah ketangkep petugas,” keluh Ipul menarik nafas.
“Emang begini nasib orang-orang kayak kita. Mereka tahunya harus taat aturan, padahal kita melakukan ini karena terpaksa. Jangankan beli karcis, makan saja susah,” jelasku mencoba tegar.
Aku dan Ipul berhenti sejenak selang dua gerbong dari tempat kami semula. Menarik nafas sedalam-dalamnya, setelah lelah melarikan diri.
“Mas, ada apa sih kok banyak orang lari-lari, ada maling ya?,” tanya seorang penumpang yang heran melihat tingkah kami.
“Ada razia karcis, Mas,” jawab Ipul terengah-engah.
“Razia? Aduh gawat nih, saya nggak beli karcis lagi,” keluh penumpang itu.
“Huh, dasar penampilan saja rapi, berkemeja seperti orang kantoran tapi beli karcis saja tidak,” bisikku dalam hati.
Begitulah kondisi penumpang kereta api, tak semuanya taat aturan, seperti penumpang nakal satu itu. Secepat api merayap, secepat itupula berita razia tersebar ke seluruh pelosok kereta api. Digerbong yang Aku tempati, suasana begitu bising, dari raut wajah para penumpangnya nampak terlihat kepanikan. Riuh rendah suara setiap mulut bersungut-sungut melontarkan cacian pada para petugas karcis itu. Sungguh ironis memang, sudah salah banyak tingkah lagi.
“Awas, petugas semakin mendekat!,” seru ibu-ibu pedagang makanan. Mengagetkan Aku saja. Jantung ini berdegup semakin kencang, keringat dingin mulai terasa di telapak tanganku. Tapi anehnya,mengapa kaki ini enggan melangkah, lututku gemetaran karena takut.
“Ya Allah, lindungi Aku dan orang-orang sepertiku. Kami terpaksa melakukannya,” doaku lirih.
Petugas razia itu semakin mendekat, kini mereka berada dalam satu gerbong bersamaku.
“Minah, kita pindah dari gerbong ini, Ayooo!,” Ipul menarik tanganku lagi.
Kulepaskan genggaman tangannya. “Percuma, Pul. Sudah lebih baik kita mengaku saja, terserah mereka mau apain kita,”
“Gila kamu ya, mau mati dijatuhin dari kereta?,” bisik Ipul terdengar marah.
Aku sebenarnya tak mau kejadian buruk menimpaku, apalagi kulihat diseberang sana, polisi menginterogasi penumpang yang ketahuan tidak membeli karcis. Parahnya mereka diseret oleh polisi dan petugas itu menuju pintu kereta, sungguh menyeramkan.
“Aduh, jangan Pak, jangan...,” erangan seorang penumpang yang tertangkap.
“Turun kamu! Kalau nggak mau bayar denda cepet turun,” teriak polisi menyeret-nyeret penumpang yang tak berdaya itu.
Sementara kereta semakin melaju begitu kencangnya. Jahat sekali polisinya, mendorong penumpang itu keluar. Parahnya penumpang itupun jatuh keluar kereta, entah apa yang terjadi padanya. Semua mata yang menyaksikan adegan itu menjerit histeris. Semoga saja penumpang itu baik-baik saja, dan tidak meninggal. Sungguh kejam kulihat adegan tepat dikedua mataku, bahkan lebih kejam dari siksaan Tuan Takur dalam film India, huh. Doa minta keselamatan terus kulantunkan dengan lirih dari kedua bibirku yang syok melihat kejadiaan naas itu. Namun tiba-tiba...
“Maliiing-maliiing...,” teriak penumpang wanita yang berdiri disampingku, saat mendapati HP dan dompetnya raib dari tasnya. Seorang berpakaian compang-camping bertopi, lari sekencang-kencangnya menubruk bahuku. Mungkin itulah malingnya. Para petugas itu kalang kabut, kebingungan harus berbuat apa.
“Maling? Mana malingnya? Eh maliiing berhentii,” seru Pak Polisi seperti kebakaran jenggot.
“Itu tuh Pak, lari ke gerbong belakang,” teriak seseorang.
Akhirnya Polisi itu dan beberapa petugas karcis mengejar maling itu. Tertinggal dua petugas saja yang melanjutkan razia.
“Yes, aman. Makasih ya maling. Untung ada Elo hehehe,” kataku bersyukur dalam hati karena Polisi itu telah lenyap di gerbong sana. Akhirnya Aku bebas dari malaikat pencabut nyawa itu, kutenangkan jantungku kembali.
“Kita selamat, Minah. Om Pol sudah pergi. Kalau cuma petugas itu doang mah santai saja,” tawa Ipul seperti orang yang baru bebas dari penjara.
***
Tiba-tiba dari arah belakang,petugas karcis menepuk pundak Ipul. Sontak saja Ipul terkejut, baru saja Ia tertawa, sudah ada di kandang macan lagi.
“Kamu, mana karcisnya!,” pinta petugas.
“Eh Bapak, jangan bercanda deh. Bapak kayak nggak tahu aja, kita kan pemulung,” jawab Ipul selengean.
“Lepasin kita ya Pak. Kita belum dapat uang sama sekali. Dari pagi kita belum makan,” Aku memohon. Ya, untung saja petugasnya nggak ngeyel, dan kita dilepaskan.
“Terimakasih. Bapak emang paling baik deh,” pujiku.
Aku dan Ipul mulai bekerja, kami berpencar, Aku ke gerbong depan dan Ipul gerbong belakang. Segera kusiapkan kantong plastik dan sapu injuk, perkakas kerjaku. Ya, Aku memang pemulung sekaligus penyapu gerbong kereta. Wajarlah pendidikanku cuma sampai SMP. Hanya Ipullah teman terdekatku, karena kami bernasib sama. Walau kotor, jijik dan rendahan, tapi Aku bangga bisa membantu hidup keluargaku. Yang penting halal, tidak seperti uang panas di saku koruptor.
Dari gerbong ke gerbong kusapukan sampah-sampah, sambil mengumpulkan gelas dan botol-botol plastik. Dari tiap penumpang, Aku berharap dapat upah kebersihan. Alhamdulillah penghasilanku hari itu lumayan untuk makan tiga hari berikutnya.
Seharian, Aku telah berkali-kali ganti kereta beginilah kerjaku. Hari semakin gelap, tepat di stasiun Cilegon, Aku dan Ipul pulang. Tapi kemudian di ujung jalan, para preman stasiun menghadang kami. Naas bukan main, uang hasil jerih payah kami seharian itu, tiba-tiba dirampas dengan paksa. Beberapa kali kami melakukan perlawanan namun hasilnya nihil. Sebagai lelaki Ipul tak berani melawan, karena para preman itu berpisau. Aku yang lemah kecapekan, hanya bisa meneteskan air mata, tak rela uang jerih payahku dirampok. Para preman itu melenggangkan kaki dengan santainya, tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
“Uangku...Ya Allah ini nggak adil, hiks...hiks...,” keluhku. Tangisku tak terbendung, hati ini panas ingin rasanya melawan, seenaknya preman-preman itu merampas hasil keringat kami. Susah payah kami bekerja seharian menahan lapar dan dahaga dibawah terik matahari, dan di tengah-tengah desakan manusia di kereta, namun dirampas dengan gampangnya tanpa menghitung keringat kami yang jatuh. Aku semakin menangisi nasibku.
“Sabar, pasti Allah akan menggantinya lebih banyak lagi, tunggu sampai hari itu datang,” Ipul meyakinkan. Begitu tegarkah dia?, tanyaku dalam hati yang tak tahan ingin rasanya menjerit. Meminta pertolongan, tapi pada siapa? Hanya gelap dan hening yang menjadi saksi. Kami pulang hanya menjinjing plastik berisi gelas dan botol-botol bekas.
***
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link