Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
Sri Namanya
By redaksi
Minggu, 08-Februari-2009, 05:39:24 394 clicks Send this story to a friend Printable Version
Hari minggu kemarin aku dan teman-temanku mengunjungi salah satu restoran fast food yang menghidangkan menu Italia.
Oleh: Sylvia Pulungan*
Tempat yang menjadi favoritku dan teman-temanku untuk hang out di hari libur. Di sela-sela makan, kami kerap kali mengobrol dan canda tawa seolah menjadi bagian dari menu makanan kami.
“Hei kalian tahu ga, kenapa kodok jalannya lompat-lompat?” kata lelaki bertubuh tambun yang berada di sampingku memulai tebak-tebakkan. “Soalnya kalau kodok jalannya merayap berarti ular dong!”
“Sudah dari sananya kali kodok jalannya lompat-lompat,” kelima temanku tertaw nyaring. “Salah, bukan itu jawabannya. Ayo siapa yang bisa?” Beberapa di antara mereka masih sibuk berpikir mencari jawaban yang tepat dan jawaban-jawaban aneh pun mereka lontarkan.
“Sudah pada nyerah semua?”
“Apa jawabannya Ton, jangan bikin penasaran gw dong!”
“Soalnya ga ada ojek jadi kodok jalannya lompat-lompat” Hahaha…
“Cape deh, mana hujan, becek, ga ada ojek. Giliran gw nih, coba tebak ya namanya i, di dalam i, warnanya i, kata orang-orang i, ayo siapa yang bisa?”
Di saat teman-temanku mulai menerka apa jawabannya, tiba-tiba pandanganku terpaku pada salah satu meja di pojok yang sejajar dengan kami. Di meja yang berselang tiga meja dari meja yang kami tempati, aku melihat sesosok hawa dengan postur tubuh tinggi semampai berbaju coklat dengan rok mini sebatas paha yang makin memperjelas kulit kuning langsatnya, rambutnya hitam dan berkilau bagaikan artis-artis dalam iklan shampo di televisi, bibirnya tipis tapi tampak manis dengan lipstik merah jambu. Ah, tak bakal habis menggambarkan kecantikannya.
Dia? Oh, tidak mungkin dia gadis kecil berbando hijau dulu. Melihat penampilannya yang hampir sempurna dan perhiasan mewah yang menghiasi tubuhnya aku hampir terkecoh namun saat kanan putihnya melambai memanggil pelayan, aku melihat ada bekas luka di pergelangan tangannya. Luka itu mengingatkanku pada 20 tahun silam semasa aku masih SD.
Dulu aku bersama teman-teman perempuanku sering bermain masakan-masakan di depan rumah Ria, temanku yang lebih tua satu tahun dariku, Bella dan gadis berbando hijau. Ria anak orang kaya dan hanya mempunyai seorang saudara laki-laki. Mainannya banyak dan bonekanya bagus-bagus bahkan kami pernah diberi mainan oleh ibunya.
Ketika itu kami main masak-masakan menggunakan dua bata sebagai kompor dan kertas serta ranting-ranting yang disiram sedikit minyak tanah yang kuambil dari warungku sebagai bahan bakarnya. Sedangkan untuk wajan atau alat memasaknya kami menggunakan gentong dan piring berukuran mini yang terbuat dari tanah liat. Dulu di sekolahku banyak pedagang yang berjualan mainan alat memasak berukuran mini dan celengan berbentuk kendi atau ayam jago yang terbuat dari tanah liat.
Saat Sri nama gadis berbando hijau itu hendak mengaduk isi gentong kecil itu, ia tak sengaja menyenggolnya maka tumpahlah daun-daun yang mulai layu terkena panas api mengguyur jari-jari tangannya dan gentong kecil yang jatuh itu pun menimpa tangan kurusnya hingga meninggalkan bekas luka yang sampai detik ini bisa kulihat di pergelangan tangan wanita di balik meja pojok itu.
Sri… benarkah kau Sri, gadis kecil yang selalu memakai bando hijau itu? Sri tetangga rumahku dulu? Sri yang suka berbohong? Sri yang pernah mencuri dua buah pensil di atas lemari es di rumah Bella dan tak mau mengembalikannya? Sri dan keluarganya yang tiba-tiba menghilang dari kampung seminggu setelah kematian ayahku? Gambaran-gambaran masa kecilku seolah sedang berputar di dalam benakku. Pikiranku sudah tak fokus lagi mendengar obrolan teman-temanku. Rasa penasaranku sudah menggunung dan seakan hendak meletuskan tanya padanya.
Bersama lintasan kenangan masa kecilku aku kembali teringat pada ayahku yang telah meninggal dunia akibat penyakit angin duduk yang telah lama bersarang ditubuhnya. Namun menurut desas-desus para tetangga kematian ayahku tak wajar dan seminggu kemudian aku pun kehilangan gadis berbando hijau itu yang pindah bersama keluarganya entah kemana.
“Eh… Vin kenapa sih lo dari tadi kayaknya ngelamun terus,” teguran Lusi memudarkan lintasan kenangan masa kecilku sekaligus menyadarkan otakku agar segera mengambil tindakan untuk menepis semua tanya dengan menghampiri wanita berbaju coklat yang tampaknya akan segera meninggalkan meja. Aku harus memastikan anggapanku bahwa dia adalah benar-benar Sri. Aku langsung berjalan meninggalkan meja tanpa pamit kepada teman-temanku yang terbengong melihatku melenggang begitu saja.
“Hai!” sapaku dengan begitu kaku dan aku bingung untuk memulai pembicaraan dengannya. Raut mukanya menunjukkan bahwa ia sedang mengingat-ingat sesuatu yang mungkin telah dilupakannya. Mengendurlah dahinya yang tadi berkerut sambil mengucakan namaku, nama seorang teman yang telah belasan tahun tak dijumpainya.
“Vina ya? Vina Ratna Destiana kan !”
“Iya, aku Vina tetangga kamu dulu” ternyata ia masih mengenalku dan mengingat nama lengkapku. Kami pun langsung berpelukan seperti sahabat yang tak pernah bertemu seabad.
“Kenalkan ini Bayu, suamiku,” aku langsung mengulurkan tanganku ke hadapan lelaki berperawakan tinggi besar itu yang kalau dilihat dari mukanya seperti sudah berumur 40 tahun ke atas.
“Sekarang kamu di mana Vin? Sudah kerja?”
“Aku masih kuliah di Untirta, kalau kamu?”
“Aku sekarang tinggal di Depok dan tadi aku baru melihat-lihat perumahan Krakatau di Serdang karena rencananya kami akan pindah,” Perumahan Serdang tak jauh dari rumahku, mungkin nanti aku bisa sering main ke rumahnya.
“Ma, papa ambil mobil dari parkiran dulu ya,” Lelaki itu memotong pembicaraan kami dan seolah memberi tanda bahwa waktu mengobrol kami sebentar lagi.
“Berapa nomor hpmu? Agar aku bisa menghubungimu,” kudiktekan berapa nomor hpku dan berpisahlah kami dengan seribu pertanyaan yang masih mengganggu pikiranku.
Pertanyaan itu seputar kondisinya sekarang yang berubah begitu signifikan. Sesuatu apakah yang telah merubah hidupnya menjadi lebih baik dari pada 20 tahun silam? Seolah riwayat keluarganya yang serba kekurangan tak pernah terjadi. Oh Sri, mungkinkah air ludah yang dulu kau lulurkan di tanganmu itu yang menjadikan kulitmu sekarang terasa lembut dan putih? Kebiasaan buruk yang membuat ibu teman-teman semasa kecil kita melarang kami untuk bermain denganmu.
Selang beberapa menit kemudian aku dan teman-temanku pulang. Di tengah jalan raya tampak mobil-mobil dan kendaraan lainnya terhenti termasuk motor yang aku dan Rio kendarai. Ada apaan sih kok rame-rame gitu? Gumam Rio, bertanya pada penjual asongan.
“Ada kecelakaan mobil! Dua orang mati, perempuan sama laki-laki,” tiba-tiba perasaanku tak enak namun aku enggan untuk turun.
Keesokan harinya, Adi teman sekelasku membawa koran untuk menunjukkan padaku bahwa ada liputan tentang kegiatan pementasan teater kelas kami yang seminggu lagi akan segera tampil. “Astaghfirulloh!” teriakku histeris ketika melihat hot line di halaman pertama tentang berita kecelakaan mobil yang menewaskan dua penumpangnya. Jantungku berdetak kencang dan kepalaku mendadak pusing saat melihat ada salah satu korban kecelakaan di foto berita itu yang aku kenali. Mayat perempuan, ya mayat yang mempunyai bekas luka di pergelangan tangan itu belum sempat memuaskan rasa penasaranku terhadapnya, belum sempat memberiku alasan mengapa keluarganya pindah secara diam-diam, benarkah kata para tetangga bahwa ayahmu adalah dukun? Sungguh singkat pertemuan kita. Mayat itu Sri namanya.

*Sylvia Pulungan, lahir di Cilegon 13 Juli 1987, merupakan mahasiswa Diksatrasia-Untirta dan alumnus Tralis angkatan 3.
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link