Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
Balon itu Menyimpan Sisa Napasnya
By redaksi
Minggu, 01-Februari-2009, 08:01:21 283 clicks Send this story to a friend Printable Version
Ia masih termangu sendiri di depan gubuknya. Sementara kepulan uap panas dari segelas kopi tanpa gula, yang tak terlampau pekat pula, masih belum direguknya semenjak dibikin.
Oleh: Niduparas Erlang
Ia biarkan saja kopi yang tak berteman kudapan itu, bertengger di atas meja bambu yang melulu merekam bunyi kriet...kriet...kriet... setiap kali ditindih atau tersenggol. Terdengar pilu dan menyayat. Ah, entahlah. Apakah ia tengah tersayat sesuatu yang datang dari balik masa lalu, atau ia sekadar merindukan istrinya yang wafat seminggu lalu?
Namun, memang, dari bola matanya yang nanar menghunus awan gemawan musim kemarau, sepertinya ia tengah menerawang jauh. Ke suatu tempat yang barangkali hanya bisa ditemukan olehnya. Tapi untuk apa ia ke sana? Tak ada yang tahu pasti. Mungkin ia hendak meminta maaf pada istrinya sebab tak pernah mampu membawanya ke rumah sakit, atau ia sedang berupaya menikmati ketersayatannya karena kini harus mengecap segalanya sendirian. Ya, sendiri, sebab tak ada lagi yang akan membuatkannya kopi pahit yang lezat, tak ada yang merawat bunga, palawija, yang dulu ditanamnya. Dan yang paling membuatnya terpuruk adalah tak ada lagi yang akan memberinya senyum manis—meskipun istrinya telah menjadi tua dan keriput—di pagi hari saat membangunkannya.
Dalam setahun terakhir, selama tubuh istrinya dihinggapi penyakit, ia memang sudah jarang mendapat senyuman termanis dari istrinya. Namun, ia masih sempat mendapatkan senyum itu, walau dirasainya mulai menggetir. Seperti pasir. Seperti biji dukuh yang tak sengaja tergigit.
* * *
Ia kayuh sepeda tuanya yang mulai menderit ke sebuah puskesmas di kota kecamatan. Dan seorang perempuan bermuka masam yang bertugas mencatat pasien yang akan berobat, memasang tampang tak nikmat ditatap, setidaknya baginya dirinya. Apalagi ketika perempuan bergincu merah darah itu, berkata dengan nada ketus, “Yang tak membawa ‘kartu sehat’ daftar belakangan.” Ia cuma terdiam. Barangkali mencoba memaklumi sikap perempuan berbibir lebar seperti kolam renang setandart olimpiade itu. Mungkin dia sedang kesal karena setiap hari harus mendaftar orang-orang yang sakit, pikirnya.
Akan tetapi, setelah berkali-kali ke puskesmas yang sama, setelah berkali-kali bertemu dengan perempuan yang melulu bergincu merah itu, dan telah pula berbutir-butir obat dikonsumsi istrinya, penyakit yang bersarang di tubuh perempuan yang semakin nampak ringkih itu tak enyah juga. Hingga seorang yang juga mengantarkan istrinya untuk periksa tetapi sekadar pengecekan rutin kehamilan menyarankannya untuk membawa istrinya itu ke rumah sakit. Hanya saja, rumah sakit di sini hanya ada di kota kabupaten. Dan itu berjarak lumayan jauh dari kampungnya yang terpencil. Ia hanya memangguk dan mengiyakan. Meski dalam kepalanya berseliweran kecemasan yang teramat. “Dari mana beroleh uang untuk membawamu ke rumah sakit,” gumamnya lirih di samping istrinya yang terlelap. Dan tentu, dalam bayangnya, ongkos rumah sakit pasti bergayut lebih tinggi dari pucuk oak, yang tak tergapai oleh tangannya yang legam dengan urat-urat menonjol seperti akar.
Di ambang keputusasaan dan kepasrahannya, seorang tetangga yang sering dihubungkaitkan dengan hal-hal gaib karena perilakunya yang ganjil, memberinya saran agar ia mau membawa istrinya berobat pada seorang dukun di desa seberang. Meski ragu dan tak hendak percaya pada kekuatan lain selain Tuhannya, toh demi kesembuhan istri tercintanya, ia ikuti juga saran itu.
Dan ia kembali membonceng istrinya dengan sepeda ontel tua yang semakin berderit karena rantenya berkarat, menempuh jalanan yang jauh lebih dahsyat tinimbang ke puskesmas. Dengan medan yang juga lumayan terjal, berbatu, bahkan ia meski melewati sungai yang cuma berjembatan dari beberapa bilah bambu.
Di gubuk prakteknya, sang dukun sekadar membacakan mantra-mantra yang terdengar lebih serupa racauan orang mabuk, dan sesekali mengembuskan napasnya di atas kepala istrinya. Menyodorkan segelas air bening yang dikucurkan dari kendi untuk diminum istrinya. Kemudian, sang dukun yang jari-jemarinya dipenuhi cincin-cincin berbatu itu pun berpesan, dan ia menangkapnya meski samar-samar; bahwa jika dalam seminggu istrinya tak kunjung sembuh, ia ‘wajib’ membawa istrinya kembali ke gubuk itu dengan menyertakan seekor kambing guna sesajian. “Penyakit istrimu akan saya pindah ke tubuh kambing itu. Tapi ingat, mesti yang hitam, dan sudah ompong,” tekan sang dukun.
Dan nyatanya memang demikin, mantra dan segelas air bening yang dicelupi keris kecil warna hitam pekat yang sebenarnya lebih mirip suvenir pernikahan tak sanggup mengusir penyakit yang bersarang di tubuh istrinya begitu saja. Tempo seminggu yang dikatakan sang dukun tak menampak perkembangan apa pun pada kesehatan perempuan yang anak-anak rambutnya kini mulai rontok.
Ia pun madah dan pasrah. Menyerahkan segalanya pada kehendak Tuhan. Ia akan berusaha ikhlas dengan apa pun yang akan terjadi pada istrinya. Kini, ia hanya bisa memanjatkan doa-doa sepanjang malam demi kesembuhan istrinya. Dan tak jarang ia menitikkan airmata ketika menatap tubuh istrianya yang semakin kurus, teronggok di atas ranjang kayu yang kasurnya sudah lepek. Ya, terlampau lepek, bahkan mungkin sudah tak pantas disebut kasur sebab punggung dapat merasakan sensasi kerasnya papan ketika berbaring. Tetapi, ia tetap berusaha untuk tabah. “Jika Tuhan mampu membuatnya sakit, tentu Dia juga mampu membuatnya kembali sehat,” pikirnya di sela-sela doa.
Hingga sampailah ia pada sebuah malam yang beku, cuma ada suara jangkrik, tonggeret, dan binatang malam lain yang mungkin saling memanggil atau menyapa, sembari menggiring sesuatu—entah apa—menyelinap ke dalam biliknya. Yang tiba-tiba membangunkan istrinya dari tidur yang nampak tak pernah lelap. Ia berjingkat dari posisinya yang semula bersila sembari menggumamkan doa-doa panjang, menghampiri istrinya yang terengah seolah ada yang menghentakkan. “Pa, sebelum ibu mati, ibu ingin sekali saja ketemu dengan Sodik!” Ia memeluk istrinya, dan sedanau pedih menggenang di pelupuk matanya.
Oh, Sodik yang malang. Di manakah kamu? Ibu merindukanmu.
* * *
Sebatang rokok kretek mulai tanggal dari lamunan lelaki tua itu. Diraihnya gelas kopi dengan tangannya yang tremor. Sementara pagi masih meninggalkan jejak-jejak dingin di pucuk-pucuk rumputan. Cahaya matahari pun belum menjadi lisut. Namun pikirannya telah benar-benar kusut seperti pita kaset yang terburai. Diseruputnya kopi pahit yang terasa meninggalkan jejak pengar di lidah.
Tak lama, seorang perempuan muda beranak dua, yang baru dua kuartal kembali menjadi tetangganya, mendekatinya sembari membawa sepiring goreng pisang dan sebungkus rokok merk gentong. Ah, pastilah suaminya yang jagal kerbau itu sudah berangkat ke pasar. Sebab Sri, nama perempuan itu, tak mungkin bernyali memberi sesuatu atau bahkan menyapa lelaki tua itu jika suaminya masih di rumah. Karena jagal kerbau bertubuh gempal itu kerap memarahinya, terhadang juga menghardiknya. Barangkali suaminya itu cemburu.
“Tidak usah Neng, nanti Eneng dimarahi juragan Boni lagi.”
“Nggak pak. Suami saya sudah pergi ke pasar pagi-pagi sekali.” Lantas Sri bergegas kembali ke rumahnya, barangkali takut ada tetangga lain yang melihat dan mengadukannya pada suaminya.
“Terima kasih,” kata lelaki tua itu lirih.
Bayangan Sodik kembali berkelebat di kepala lelaki tua itu. Terlebih setelah ia melihat Sri, perempuan yang dulu amat dicintai Sodik. Tetapi sayang, Sodik dianggap telah meracuni penduduk kampung dengan Madzhab yang berbeda yang dibawanya dari pesantren. Hingga pengusiran secara halus pun dilancarkan para tetua kampung, termasuk ayahnya Sri yang kebetulan dipercaya sebagai ketua RT, yaitu dengan menikahkan Sri dengan seorang jagal kerbau yang nyatanya sudah beristri. Sri diboyong suaminya ke luar kampung, sementara Sodik sekarat. Tak sekadar soal pernikahan Sri, tetapi kebebasan untuk beribadah pun, dirampas para tetua kampung dengan tak mengijinkan Sodik beribadah secara berjamaah.
Akhirnya Sodik yang merasa haknya dirampas, dikucilkan orang-orang kampung, memilih untuk pergi dari tanah kelahirannya. Saat itu, lelaki tua yang kini memerhatikan bocah-bocah berseragam es-de yang berjingkrak-jingkrak sembari berebut dan mengerubuti tukang balon, hanya bisa mengijin kepergian anak satu-satunya dengan sekelumit pesan, “Jaga dirimu baik-baik. Abah sama Ibu hanya bisa mendoakan agar kamu selamat berada di mana pun.”
* * *
Aih, balon-balon dengan warna-waran cerah itu mengingatkannya pada Sodik kecil yang ceria dan istrinya. Mengingatkannya pada kecerian sederhana Sodik kecil yang suka meniupi balon-balon yang akan dijajakannya dengan sepeda sewaktu ia masih berprofesi sebagai tukang balon dan mainan anak-anak. Meski telah lalu, bahkan terlampau lama dibanding umur balon yang cepat mengempis dalam suhu dingin, tetapi ingatan itu masih nampak segar di kepalanya.
Tanpa disadarinya, seorang bocah berseragam sekolah, dengan rambut diikat ekor kuda, dan bedak yang bertabur tak rata pada kedua pipinya yang mungil, menyodorkan balon yang telah kempis. Lelaki tua itu tersenyum. Dan seolah mengerti isyarat si anak, maka ditiupnya balon berwarna kuning itu sampai mengembung dan mengikat mulut balonnya dengan tali.
Sementara bocah itu berlari kegirangan karena balonnya kembali mengembung besar, lelaki itu masuk ke dalam gubuknya dan menguncinya. Dan tanpa sepengetahuannya, bocah perempuan itu terus berlari semakin menjauh dari rumahnya, dari kampungnya.
* * *
Rangkasbitung 07-Serang 031108

Biodata Penulis;
Niduparas, lahir di Serang 11 Oktober 1986. Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Banten, Forum Kesenian Banten (FKB), Bengkel Penulisan Sastra (Belistra), juga sebagai penggiat Jurnal Sastra Ra’kata. Masih tercatat sebagai mahasiswa Diksatrasia Untirta. Tinggal di Serang.
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link