Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
Api di Gambar Baligho Seberang Rumah Kami
By redaksi
Minggu, 18-Januari-2009, 05:35:52 485 clicks Send this story to a friend Printable Version
Henpon di kantong celanaku bergetar. Ada sms masuk. Aku tak buru-buru angkat, karena aku sedang rapat evaluasi.
Cerpen Lore-Gede Harare*
Pak Budiyanto, bosku, bisa marah besar jika ada yang tidak memperhatikan ketika ia bicara. Apalagi buka-buka henpon sekedar baca sms, atau malah balas kirim sms. Ditambah lagi dengan kondisinya yang lagi uring-uringan hampir setiap hari. Pendapatan perusahaannya terancam berkurang setiap hari. Dampak Amerika yang lagi sakit sampai juga ke perusahaan Pak Budi; dan itu berarti kami, karyawannya, harus berpikir serius menyelamatkan perusahaan; atau setidaknya bersikap yang paling aman: berpura-pura berpikir keras. Dengan begitu saja dia sudah senang.
Seperempat jam kemudian, henponku bergetar lagi. Kali ini getarnya terasa lebih lama. Ada telepon masuk. Aku pikir, ini pasti orang yang mengirim sms tadi. Begitu mendesak sepertinya. Hingga jika aku rasakan ia menelpon hampir sampai lima kali kurang lebih. Aku belum lihat pastinya, karena ia masih aku sarangkan di balik kantong celanaku. Geli rasanya terus membiarkannya bergetar seperti tadi.
Baru satu jam kemudian, setelah rapat usai, aku cek siapa yang mengirim sms dan menelpon tadi. Lima panggilan tak terjawab, 1 sms masuk. Dari jejaknya aku tahu, tadi Widya, isteriku, yang menelpon. Ada apa ini? Rasanya agak jarang Widya menelpon saat aku di jam kantor. Apalagi tadi sebelum berangkat ia tahu kalau hari ini bakal ada rapat evaluasi. Kecuali memang untuk berita yang sangat penting.
Buru-buru aku buka kotak inbox. Benar: sms dari Widya.
Pah, pulang sekarang!
Ijal mendadak demam.
Ia mengigau, kadang berteriak, “Api! Api! Api!”
Mamah takut!
Baru aku mau telepon isteriku, Suparno, pesuruh di kantorku, memberitahuku jika Pak Budi memintaku datang ke ruangannya. Suparno datang dengan mata berkaca-kaca. “Ada apa, No?” tanyaku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maafkan saya, Pak. Mungkin selama kerja di sini, ada yang keliru dengan saya,” katanya sambil menyalamiku dan berlalu.
Aku urungkan menelpon Widya. Meskipun, jantungku berdetak keras, pikiranku berlomba mencari jawab: ada apa dengan Ijal, anakku, dan apa dengan Pak Budi. Mungkinkah aku hendak di-PHK. Kondisi perusahaan yang sedang berat memang membuatnya tak punya banyak pilihan.
Di depan pintu ruang Pak Budi, aku lihat Roy baru saja keluar. Tangannya terkepal meninju dinding. Pot bunga di dekat pintu itu pun oleng terkena sabetan kakinya. “Ada apa, Roy?” tanyaku. Ia hanya menggeleng seolah tak percaya. Ia memelukku sebentar. “Giliranmu mendapat panggilan, Di. Semoga kau bernasib lebih baik dari aku,” katanya sambil menepuk-nepuk pundakku. Ia berlalu, dan aku bergegas masuk ruang Pak Budi.
Pak Budi duduk dengan wajah kusut dan sisir rambut yang tak teratur.
***
“Api! Api! Api!” teriak Ijal.
“Nggak ada api, Ijal. ‘Gak ada. Kamu aman di sini, Nak,” kataku.
Ijal terus meronta. Mamahnya sudah kewalahan menjaga Ijal yang terus meronta. Sesekali ia diam. Itu pun jika tubuhnya merasa kecapekan. Dan ia akan mulai meronta lagi ketika tenaganya sudah pulih. Ijal lebih mirip seperti orang kerasukan setan. Ia lumayan agak mereda setelah aku minumkan air putih yang aku mintakan dari Kyai Solihin.
“Ada apa, Kyai?” tanyaku penasaran. Kyai Solihin sudah biasa menangani hal-hal gaib seperti ini.
“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Kyai dengan tenang. “Anakmu baik-baik saja. Biasa, penglihatan jujur anak kecil,” katanya menambahkan.
Meski bingung dengan kata-kata Kyai. Aku merasa lebih tenang. Tak ada makhluk gaib yang mengganggu Ijal, anakku. Aku tak paham tentang hal gaib. Sedikit pun. Lewat saran beberapa warga kampung aku datang pada Kyai Solihin, dan memintakan air putih yang sudah dibacakan doa-doa. Hasilnya, Ijal lumayan terdiam agak tenang. Meskipun sesekali ia masih juga meronta.
Hanya Ijal yang mengalami seperti itu. Teman-teman sepermainannya baik-baik saja. Tidak ada yang berteriak-teriak, “Api! Api! Api!” seperti yang Ijal teriakkan. Aku penasaran, dan mulai menaruh curiga. Jangan-jangan tadi Ijal dijahati teman-temannya. Ditakut-takuti Api misalnya.
Aku datangi semua rumah teman-temannya. Aku interogasi satu per satu. Tak satu pun dari mereka yang mengaku menjahati Ijal; dengan menakut-nakutinya, misalnya.
“Tadi kita hanya bersepeda, Pak,” kata Roni memberi penjelasan.
“Di sepanjang jalan tidak ada apa-apa,” tambah Oki, yang aku bawa serta menyambangi rumah Roni.
“Kecuali gambar-gambar besar di pinggir-pinggir jalan,” tambah yang lainnya.
“Gambar-gambar apa?” tanyaku.
“Itu lho, Pak, gambar orang-orang yang rapih, ganteng dan cantik-cantik itu,” jelas Salam.
“Iya, mereka ganteng-ganteng. Aku pingin seperti mereka,” kata Ozi menambahi.
“Ada kebakaran yang kalian lihat di jalan tadi?” tanyaku penasaran kenapa Ijal berteriak-teriak api jika yang di jalanan ia lihat hanya baligho.
Mereka saling pandang, lalu semuanya menggelengkan kepala. Dan secara serempak mereka bilang, “Tidak ada, Pak!”
“Yakin?” tanyaku memastikan.
Seperti dikomando, hampir serentak, mereka mengangguk.
Tidak menemukan apa penyebab teriakan “Api! Api! Api!” yang terus berulang dari mulut Ijal, aku memutuskan untuk pulang. Mungkin Widya sudah kewalahan menahan rontaan Ijal sejak tadi.
Baru sekitar tiga langkah, aku mendengar suara Ozi memanggil. Aku menoleh. Dari gerak bibirnya ada hal yang ingin ia sampaikan.
“Tadi tidak ada kebakaran yang kita lihat di jalan. Hanya gambar-gambar besar itu,” kata Ozi mengulangi. “Hanya waktu saya utarakan saya pingin jadi seperti mereka, waktu kita melewati satu gambar besar, Ijal menghentikan sepedanya.”
Semua mata tertuju pada Ozi. Telinga kami buka baik-baik. “Ijal bilang pada saya, ia melihat api dari mata, telinga, dan dada gambar-gambar itu. Api itu semakin berkobar, kata Ijal. Teman-teman lain sudah mendahului kami. Hanya saya dan Ijal yang tertinggal,” sambung Ozi. Kami semua saling pandang. “Api dari telinga, mata, dan dada pada gambar-gambar itu?” tanyaku dalam hati.
***
Sampai rumah Ijal sudah tertidur. Kelelahan, mungkin. Di sampingnya tergolek lelah isteriku, Widya. Jam dinding menunjuk angka enam lewat lima. Adzan maghrib baru saja usai.
‘Mereka kelelahan,” kata Mbok Yul, tetangga sebelah, sambil menyodorkan segelas air putih. Suaranya mengagetkanku.
Mbok Yul sudah biasa membantu keluarga kami. Waktu kelahiran Ijal dulu, Mbok Yul-lah yang membantuku; mencarikan dan menemani bidan hingga selesai. Bapak-Ibu Widya telah lama berpulang. Mereka tak sempat menyaksikan kelahiran cucu pertamanya. Sedang orangtuaku, yang tinggal ibu, tinggal jauh di pelosok Kediri sana. Sudah renta dan terlalu berbahaya untuk menempuh perjalanan jauh Kediri-Serang. Mbok Yul sudah seperti ibu sendiri bagi kami.
Isteriku menggeliat bangun. Suaraku mengganggu kelelapannya.
“Bagaimana, Pah?” tanyanya menyerbuku. “Apa kata mereka?” sambungnya.
“Tidak ada apa-apa. Hanya kata Ozi, sewaktu mereka tertinggal dari yang lainnya, tinggal berdua, Ijal bilang pada Ozi kalau ia melihat api yang berkobar dari telinga, mata, dan dada orang-orang bergambar yang terpampang hampir di sepanjang jalan itu,” kataku menjelaskan.
Widya bergegas menyibak tirai jendela depan. Dari balik jendela ia melihat gambar di baligho seberang rumah. Tak ada apa-apa. Tak ada api! Rupanya ia tak percaya betul dengan penglihatannya. Kali ini ia buka pintu dan menyembur keluar. “Lebih dekat, biar lebih jelas,” katanya waktu kutanya hendak kemana.
Lima menit kemudian ia kembali. “Bagaimana, Mah?” tanyaku. Ia hanya menggeleng. “Nyaris tak ada yang ganjil, Pah,” jawabnya.
Ijal masih lelap tertidur. Sepertinya ia benar-benar telah reda. Panasnya turun. Dari dahinya aku lihat keringat deras bercucuran. Aku senang. Kata orang-orang di kampungku dulu, itu pertanda sudah akan sembuh dari sakit. Semoga saja. Widya juga sudah tertidur.
Ia sempat beberapa kali bolak-balik ke ruang depan; menyibak tirai dan mengamati gambar di baligho seberang rumah kami. Hasilnya selalu ia bilang tak ada yang ganjil. Rupanya ia kelelahan dan tertidur. Tetapi, sepertinya ia masih menyimpan penasaran sebelum tidurnya. Hingga ia sempat bangun beberapa kali, dan hendak bangkit menuju ruang depan lagi. Tapi selalu aku cegah.
Aku lihat Ijal yang ada dalam apitan kami pulas tertidur. Besok mungkin ia bisa bermain sepeda bersama teman-temannya lagi. Ingin rasanya aku temani, sekaligus mengawasi kalau-kalau terjadi seperti ini lagi. Tapi, asap dapur yang tak kenal kompromi untuk sejenak, membuatku harus berpikir keras, dan coba menghubungi beberapa kenalan lama. Barangkali saja mereka membutuhkan tenagaku.
Awan hitam yang menggumpal sejak sore tadi, dibayarnya denga hujam yang mendendam. Agin bertiup kencang seolah hendak merontokkan rumah kami. Lampu padam.
Aku bangunkan Widya untuk membantuku menyalakan lampu minyak. Ia masih penasaran, dan rupanya kali ini berusaha membayar penasarannya. Dengan penerangan lampu minyak, ia menyibak tirai ruang depan. Entah untuk yang kesekian kalinya. Dari kamar aku dengar suara Ijal kembali menjerit, “Api! Api! Api!”
“Ijal, Ijal, tenang, Nak,” kataku coba menenangkan. Mungkin ia terkaget bangun dalam keadaan gelap, pikirku. Jeritnya semakin keras. “Api! Api! Api!”
Hujan di luar semakin lebat. Aku tahan kuat-kuat rontaannya. Setelah sekitar sepuluh menit kemudian, ia melemas. “Ijal, Ijal,” panggilku, “bangun, Nak. Tak ada api! Tak ada api!”
“Ada Api di luar, Pah,” katanya. Aku lihat ia seperti baru sadar dari igauannya..
“Api apa? Tidak ada api, Nak,” kataku menenangkan.
“Ada Api di luar, Pah,” katanya mengulangi. “Ada Api di luar!”
Didorong rasa penasaran, isteriku bangkit menuju ruang depan. Perlahan ia sibak tirai. Ia amati gambar di baligho seberang rumah kami. Beberapa kali ia menengok ke arahku yang memeluk Ijal. Pada tengokan yang kelima kira-kira, wajahnya mendadak pucat. Ia bergegas lari ke arah kami. Lampu minyak yang dipegangnya terjatuh. Untung saja tidak pecah dan minyaknya tumpah. Dalam kata yang saling memburu ia berkata, “Pah, dari telinga, mata, dan dadanya ada Api berkobar. Gigi taringnya memanjang, dan meneteskan darah!”. Ia selesaikan kata-katanya sambil tersengal-sengal.
Aku lepaskan Ijal dari pelukanku. Ia tak lagi meronta sekarang. Aku bergegas menyibak tirai depan. Sambil jongkok, aku buka tirai itu perlahan. Dalam deras hujan, aku lihat benderang dari baligho seberang rumah kami. Dari telinga, mata dan dadanya berkobar api. Benar! Lihat gigi taringnya! Tapi aku melihat satu hal lagi: lidahnya menjulur! Setelah itu gelap!

Penulis, mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link