Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
YUNAN / NETA
By redaksi
Minggu, 11-Januari-2009, 00:34:56 324 clicks Send this story to a friend Printable Version
“Yunan, mau kemana?” sapaku dari teras rumah.
“Keruma Ike,” jawabnya sambil tersenyum malu-malu. Kulihat di kedua telapak tanganya menggenggam 2 buah kecapi dan secarik kertas yang terlipat.
Oleh: Rama Safra’I Rachmat
“Ngapain?” tanyaku bernadakan emosi-aku sedikit cemburu dengan Yunan, selama ini aku dengar dari kabar orang-orang kalau dia sering memberikan perhatian lebih kepada Ike, kekasihku yang baru 3 bulan ini kami menjalin cinta. Dengan langkahnya yang lembut, Yunan berlari pergi sambil senyum-senyum sendiri tanpa menjawab pertanyaanku.

***

Apakah aku sedang cemburu?
Berkali-kali aku menghubungi ponsel Ike namun tidak ada satu pun panggilan terjawab. Aku semakin cemas. Apalagi kutahu Yunan ke rumahnya. Ingin rasanya aku pergi kerumah Ike untuk memastikan sedang apa ia di rumahnya. Seharian ini memang aku belum bertemu dan tahu kabarnya, biasanya ia selalu kirim SMS atau mampir ke rumah untuk sekedar menyapaku saja.
Ike adalah gadis tercantik di kampung. Aku sendiri tidak menyangka bisa memiliki hatinya. Sejak dulu aku memendam rasa, karena Ike masih bersekolah. Penantian panjang itu berakhir ketika disuatu sore di akhir bulan Ramadhan, Ike datang kerumah mengirimkan kue nastar atas suruan Mamanya. Mungkin ini dikarenakan hubungan Bapak dan Om Haris, Papanya Ike, rekan bisnis yang baik, wajar jika saling antar-antaran makanan sebagai tanda pererat silaturahmi menjelang lebaran. Sebagai balasannya, aku disuruh Ibu mengantarkan balasan berupa setoples kue gipang.
Karena aku kesorean dan menjelang buka puasa, Om Haris menyuruhku ikut serta buka puasa bersama. Aku jelas saja tidak menolak, meski awalnya basa-basi menolak. Sangat bodoh rasanya menolak tawaran baik ini, semoga saja diakhir waktu membatalkan puasa ini akan berbuah rasa manis dihatiku. Apalagi, sore itu Ike terlihat cantik dengan kerudung merah yang menutupi sebagian kepalanya.
Seperti alur cerita yang manis, skenario berjalan dengan baik. Ketika acara halal bihalal di halaman Masjid At-Taqwa, aku memiliki kesempatan untuk banyak ngobrol bersama Ike. Aku sang lelaki pemalu menjadi berani banyak bicara dengan gadis cantikku itu. Apalagi ketika Ike cerita kalau komputer di rumahnya sedang rusak dan belum diperbaiki karena terbentur dana, maka aku langsung menawarkan bantuan. “Jika Ike membutuhkan komputer datang seja ke rumahku, Ike bebas memakai komputerku 24 jam non stop,” maka di hari-hari berikutnya Ike sering datang ke rumahku untuk mengetik cerpen yang memang menjadi hobinya selama ini.
Kutahu Ike mencintaiku ketika di sebuah folder ia menuliskan;
“Aku hanyalah seorang gadis yang tak mampu berkata-kata masalah cinta. Yang kutahu hanya ada rasa dalam hati. Bahwa aku mencintai jejaka yang setiap hari kutemui. Apakah ia juga mencintaiku,”
Aku tidak mengerti tentang puisi, aku sempat ge-er, mungkinkah puisi ini untukku? Jika iya, aku tidak begitu saja langsung mengatakannya. Maka aku sambung kalimat di bawah puisi itu:
“Ada gadis jatuh cinta kepada jejaka. Ada jejaka yang memendam rasa cinti kepada gadis. Sang gadis malu mengungkapkan cinta. Sang jejeka takut mengungkapkannya.”
Beberapa hari kemudian, puisi itu diteruskan oleh Ike:
“Mulut bisa berkata bohong. Hati tidak bisa di bohongi. Jika saling cinta….”
Ike tidak meneruskan tulisnnya. Membuat aku penasaran. Aku sambung saja;
“Tak perlu berkata, rasa yang bergaung merdu. Karena dentangnya menggetarkan hati. Tidak perlu dikata, cukup dirasa, lalu menyatukan rasa sepenuhnya dengan cinta.”
Setelah Ike membaca tulisanku itu, ia terlihat malu--aku juga, namun semuanya berakhir ketika kami saling mengungkapkan cinta.
Satu minggu kami resmi menjadi sepasang kekasih, tapi kami masih malu dan merahasiakan hubungan kami dari siapa pun, hingga akhirnya kedua orangtua kami tahu sendiri dan merestui hubungan kami. Aku juga baru tahu dari calon mertuaku, kalau komputer Ike tidak pernah rusak hingga saat ini.
Lamunanku terpecah ketika Ibu pulang sambil ngomel-ngomel karena kain batiknya basah terciprat genangan air di jalanan.

“Ibu kira Neta sudah sembuh, ternyata anak itu masih saja gila. Masa anak gadis main-main dikubangan air di jalan. Ibu berniat baik menyuruhnya pulang, malu dilihat orang, eh… malah Neta ngusir Ibu dengan menjiprati air kotor,” cerita Ibu yang sedikit bisa memaklumi anak gadis yang kabarnya tidak waras karena kesambet setan itu.
“Bukannya Neta sudah sembu? Nama Neta juga sudah di ganti.”
“Kalau sudah sembuh, tidak mungkin Neta sekarang jatuh cinta sama seorang gadis!”

***

3 SMS masuk ke ponselku, mengabarkan masalah yang membuatku khawatir.
Ardi (0254970XXX) “Gw baru dapet kabar, masa sih Yunan melamar Ike. Terus katanya diterima. Secepatnya mereka akan menikah. Gila nggak sih?”
Laras (0876201XXX) “Kang Ara, hati-hati loch, bisa-bisa Ike sama Kang Ara dicelakain sama Yunan. Ih ngeri. Orang gilakan susah diprediksi perbuatannya.”
Gendol (0856112XXX) “Bos, nyuru Neta beli kecapi ya? Katanya buat Mas kawin. Gak jelas tu anak gila ngomong apa?”
Aku sedikit marah, tapi juga tersenyum karena lucu. Kalau tahu orang gila kenapa diladeni. Bisa-bisa ikut gila juga kalau percaya sama orang gila.

***

“Kang Ara, cemburu ya?” tanya Ike kepadaku ketika malam itu berhasil aku temui. Kami duduk di teras rumah sambil memandangi langit malam yang tenang.
“Cemburu, untuk apa? Aku cuma khawatir,” aku menyembunyikan perasaanku, meski sebenarnya Ike tahu perasaanku. Wajar jika cemburu, itukan bukti cinta. Jika kecemburuanku itu bodoh--seperti yang dikatakan Ibu, memang benar cinta itu membuat aku bodoh. Perlu ditegaskan, aku tidak cemburu dengan perbuatan Yunan, secara logika saja tidak mungkin Ike membalas cintanya. Aku hanya khawatir, Yunan mencelakakan bunga jiwaku.
Ike mengeluarkan 2 buah kecapi dari saku bajunya. Aku teringat dengan Yunan saat menggenggam 2 buah kecapi di tangannya.
“Kecapi dari mana?” tanyaku dengan nada seperti mengintrogasi.
Ike tersenyum lembut. “Dari Yunan,” jawabnya dengan serius. Membuat jantungku sejenak berhenti berdegup. Kemudian Ike menderaikan tawa melihat mukaku yang tegang dan pucat. Ike berhasil menggodaku. Sebenarnya kecapi itu oleh-oleh dari Mancak. Tadi siang Ike pergi ke Mancak tanpa sepengetahuanku.
“Aku takut, Kang,” kata Ike.
“Sama siapa, kan ada Spayderman disini yang siap melindungi Mary Jane setiap saat,” candaku, menyamakan dengan tokoh super hero idolaku.
“Neta,” jawab Ike dengan nada kekhawatiran.
“Yunan, maksud kamu?”
“Neta ataupun Yunan sama aja, Cuma ganti nama. Aku hanya merasa agak khawatir dengannya. Kemaren dia kesini mambawakan 2 kecapi dan surat. Untungnya aku lagi di Mancak di rumah Uwak. Jadi kecapi dan surat itu dititipin ke adek.”
“Neta mungkin saja sudah sembuh, namanya saja diganti Yunan. Hanya saja, kita tidak tahu kenapa Yunan jadi suka sama kamu. Mungkin saja ingin bersahabat. Bukankah sewaktu SD, sebelum Yunan sakit dulu, satu kelas sama kamu.”
“Tetap saja ngeri. Kang Ara baca sendiri surat yang ditulisnya.”
Ike mengeluarkan secarik lipatan kertas dari saku bajunya. Aku buka lipatan itu dan kubaca dengan penerangan cahaya rembulan yang bersinar penuh.

Ike kamu cantik
Aku jadi cinta sama kamu
Mau gak kawin sama aku
Nanti aku kasih kamu kecapi.
Yunan cinta Ike

Aku hanya terdiam membaca surat ini. Entah kenapa, aku merasa masalah ini bukan masalah biasa. Tapi akan ada masalah panjang yang mengerikan menghantui pikiranku.

***

Cilegon, 7 Januari 2009


Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link