Home
Rubrik
Tentang kami
News / Rubrik / Budaya
Napas Hidup Lastri
By redaksi
Minggu, 04-Januari-2009, 06:47:44 309 clicks Send this story to a friend Printable Version
Daun-daun tampak melayu ketika sang surya bergerak malu-malu ke tempat persembunyiannya di ufuk barat. Binatang pengerat berlarian ke sana-kemari mencari perlindungan.
Oleh: Imel Maru
Burung gereja tampak menyelesaikan pergulatannya dengan fantasi alam lalu terbang menyusuri hembusan angin senja menuju sarangnya di sela-sela atap sebuah bangunan. Semuanya bersiap menghadapi sebuah keadaan yang ditimbulkan oleh pergerakan bumi pada porosnya, yaitu datangnya sang malam.
Saat semua makhluk mencari perlindungan, di dalam tempat mereka mendapatkan rasa aman waktu malam tiba, tidak demikian dengan sebuah sosok yang tengah duduk bersandar di bawah kerindangan pohon akasia di ujung taman. Seorang wanita berparas ayu. Dia menundukkan kepalanya bertopang dagu pada tangan yang ia silangkan di atas kedua lututnya. Kedua matanya sembab dan terdapat sebuah garis hitam di bawahnya. Mudah disimpulkan bahwa wanita itu habis menangis dengan intensitas yang cukup lama. Wanita itu adalah Lastri.
Lastri tidak pernah merasa sedemikian pilu dalam hidupnya seperti saat ini. Ia merasa dirinya hina. Sekujur tubuhnya menanggung beban derita yang tak mampu ia pikul. Ia putus asa. Lastri masih belum mampu menerima kenyataan yang telah terjadi terhadapnya. Ia telah diperkosa! Lastri kembali menangis. Ratapan demi ratapan menggulung dunia cakrawala pemikirannya. Mengapa harus dirinya yang tertimpa musibah ini? Mengapa harus dirinya?!
Dalam tangisnya Lastri meraung-raung penuh kegetiran sehingga setiap makhluk terasa seperti tersayat-sayat mendengar isakan tangisnya. Langit pun seolah turut berduka yang secara simbolis menaungi alam dengan awan mendungnya.
Tidak ada satupun kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang kini tengah melanda batinnya. Lastri merasa hidupnya telah hancur. Masa depannya telah sirna. Dan itu semua direnggut oleh bajingan itu, seorang brengsek yang telah mentasbihkan noda penderitaan nan hina dina di atas dirinya. Lastri tak mampu membendung pergolakan batin yang tengah berkecamuk di dalam dirinya. Ia bimbang untuk memutuskan langkah apa yang akan ia lakukan. Masih adakah yang bisa dilakukannya di dunia? Masih adakah orang yang menerima kehadiran seorang perempuan yang tak lagi suci karena mahkotanya telah terenggut paksa? Masih adakah tempat untuk dirinya memperoleh bahagia?
Keadaan yang kini ia tanggung di atas pundaknya membuat jiwanya rentan akan bisikan setan. Lastri berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin kematian mampu menjadi obat yang paling mujarab atas apa yang saat ini ia hadapi. Apalah artinya ia tetap hidup jika jiwanya telah tiada?
Tapi apakah ia akan sanggup untuk melakukan hal itu? Apakah benar bunuh diri adalah solusi yang benar-benar terbaik untuknya saat ini? Lebih jauh lagi ia masygul apakah bunuh diri itu adalah sebuah solusi? Mati dan hidupnya seseorang mutlak adalah otoritas Yang Maha Kuasa. Apakah hak manusia untuk menyalahi keputusan Sang Pencipta? Jikia ia nekat tetap memaksakan tindakan itu berarti Lastri harus siap untuk memperoleh musibah yang jauh lebih dahsyat: menjadi penantang yang nyata di hadapan-Nya!
Hanya murka Allah yang akan didapatnya. Azab yang teramat pedihlah yang akan ditimpakan kepada makhluk yang mendzalimi apa yang telah menjadi ketetapan-Nya.
Lastri lantas berpikir bahwa bukankah akan menjadi lebih hina lagi dirinya apabila ia memutuskan untuk membuat murka Gusti Allah. Kenistaan yang ia terima tak akan terperi lagi.
Lalu apa yang dilakukannya kini?! Akan kemanakah ia membawa noda hitam pada dirinya?
Kebimbangan kembali melanda dirinya ketika seekor burung mitis hinggap di pundak kanannya. Tiba-tiba semua menjadi gelap untuknya. Lastri memejamkan matanya.
Saat Lastri membuka mata, ia melihat cahaya putih yang terbentang luas sejauh mata memandang. Tiupan angin begitu kerasnya sehingga menyibakkan helai demi helai bulu di sayapnya. Lastri kini adalah seekor burung. Dan dia kini berada diantara ribuan burung lainnya yang terbang bersamanya. Beberapa lamanya ia dan kawanan burungnya terbang mengangkasa hingga ia tiba di suatu lembah, tempat dimana setiap burung ditenggelamkan ke dalam lautan api hingga eksistensinya sendiri terbakar. Setelah itu ia bertemu dengan Lembah kedua dimana setiap burung harus mengambil jalan berbeda sehingga semua pernyataan, semua gairah akan makna lenyap. Akhirnya, di ujung perjalanan, burung-burung tiba di Lembah ketiadaan. Di situ, terlepas dari egonya, mereka mengenakan jubah yang menandai keterlupaan dan tebakar oleh spirit alam semesta.
Dari ribuan burung yang memulai perjalanan bersamanya, tinggal tersisa dirinya seorang diri. Dengan hati yang tak berpengharapan dan sayap yang menjuntai penuh luka, Lastri sampai di sebuah singgasana di mana Sang Ratu Burung berada. Ketika melihat sosok Sang Ratu Burung, Lastri heran sekali karena Lastri melihat dirinya sendiri. Dan di sinilah, di ujung jalan, Lastri diperjumpakan dengan realitas bahwa meskipun ia telah berjuang, mengembara, dan bepergian jauh, sesungguhnya dirinyalah sendiri yang ia cari dan dia sendirilah yang ada. “Aku adalah cermin di hadapan mata kalian”, kata Sang Ratu Burung. “Dan semua yang datang di kemegahanku melihat diri mereka sendiri, realitas unik mereka sendiri”.
:Setelah itu Lastri menangkap cahaya yang menyilaukan mata. Dan ketika cahaya itu sirna, Lastri kembali menemukan dirinya bersandar di bawah pohon di ujung taman. Ia menengok ke burung mitis yang masih diam di pundaknya. Lastri merasa burung itu tengah tersenyum. Kemudian, setelah memberi isyarat sebelumnya, burung itu mengepakkan sayapnya dan terbang meninggalkan Lastri kembali seorang diri.
Lastri mampu menangkap makna yang tersirat dari kehadiran burung mitis nan misterius tersebut. Lastri bergumam di dalam sanubari. Tangannya mengepal. Sembari menepuk dada ia berucap, “Aku masih memiliki alasan untuk hidup. Masih ada sesuatu yang harus kuperjuangkan. Bahwa esensi dari keterciptaannya di dunia adalah untuk bertahan menghadapi segala cobaan. Bahwa segala musibah yang ditimpakan Sang Rabb adalah sebuah fase yang harus dilewati oleh setiap hambanya untuk meningkatkan keimanan mereka terhadap-Nya. Dan yang dijadikan alasannya tidak lain adalah dirinya sendiri”.
Ya, itulah alasan yang mengokohkan pendirian Lastri untuk terus menapaki hidup. Lastri sadar bahwa dirinya harus memperjuangkan dirinya sendiri. Bahwa dirinya telah dianugerahkan kehidupan oleh Sang Khalik tidak lain adalah untuk terus mempertahankan eksistensinya demi menghamba kepada-Nya. Lastri mengokokohkan hatinya setegak batu karang dan berkata, “Inilah aku dan inilah napas hidupku!”.**
Discussion
Latest Post
Latest Response
E-Paper

Link