 |
 |
|
 |
 |
|
| News /
Rubrik
/ Budaya |
|
| Sesal di Penghujung Napasku | | By redaksi |
| Minggu, 29-Juni-2008, 07:17:34 |
512 clicks |
 |
 |
|
|
| Aku menghembuskan nafasku, berat sekali. Ingin kutarik nafas pengganti udara yang telah kukeluarkanpun tak kalah beratnya, seperti hendak mati rasanya. |
|
|
Oleh: Imel Maru
Ya, diriku memang telah tiba di penghujung hidupku. Sebuah alasan yang membuatku terjaga sepanjang malam, selama beberapa hari ini. Tak pelak semua energiku terkuras hanya karena ketidakrelaanku pada malaikat yang akan mengambil hakku untuk hidup.
Takut mati? Mungkin. Semua memang tak pernah terfikirkan dulu. Andai dulu tak pernah ku langgar larangan-Nya. Andai diriku hanyalah bocah lugu yang tak pernah mengerti bejatnya kehidupan kota sampai diriku tenggelam bersamanya. Semua salahku? Tidak juga.
. . .
Dulu, aku begitu angkuh. Tak pernah terfikir di otakku akan bagaimana nanti atau masa depanku nanti. Yang terlintas dan selalu hadir dalam benakku adalah bagaimana aku menikmati dunia, bagaimana aku dapat menyenangkan diriku, bagaimana diriku bergerak sesuai jalan pikiranku, apapun resikonya. Kuabaikan semua omongan-omongan orangtua, teman, guru atau siapapun makhluk tentang diriku dan kesehatanku. Dulu–sampai saat ini, aku pecandu narkoba.
Barang haram itu telah merubah seluruh jalan hidupku yang biasa-biasa saja menjadi penuh dengan kesenangan yang tidak biasa dan sementara. Kebiasaan, sudut pandang, dan pola pikirku hanya berorientasi memenuhi hasaratku untuk bercinta dengan kesenangan yang terdapat dalam barang haram itu. Apa yang ditawarkan didalamnya memang tak bisa kutolak dan kuakui bahwa aku menikmatinya. Kenyataan bahwa hidupku terkekang dan terpasung oleh keharusan untuk mengkonsumsi barang itu kuanggap sebagai suatu pengorbanan untuk mendapatkan surga. Aku sangat bahagia, saat itu.
Lalu mereka datang saat badanku sudah semakin kurus dan pandanganku yang semakin kabur. Dia mengikat tangan dan kakiku seperti memperlakukanku layaknya anjing. Semakin kuat ku melawan dan mengamuk untuk membebaskan diri, semakin kuat pula ikatan dan siksaan yang mereka berikan. Aku hanya bisa terkapar tak berdaya dan hanya bisa pasrah membiarkan diriku –yang memang tak memiliki tenaga lain selain berteriak pada mereka untuk memberikan aku ‘barang’- dibawa kemanapun mereka pergi.
Aku dapat melihat sekelilingku yang dibatasi oleh tembok, tembok, dan tembok. Kepalaku terasa sangat berat seperti habis pingsan dan memang tampaknya aku telah tak sadarkan diri selama beberapa waktu, mungkin mereka telah membiusku. Aku lalu merasakan tenggorokanku sangatlah kering dan rasa panas yang menjalar dengan cepat di sekujur tubuhku. Aku berkeringat sangat banyak dan membasahi setiap jengkal ruangan ini. Rasa panas itu kemudian hilang ketika giliran tubuhku kedinginan. Aku mengigil, gigiku bergemeletuk satu sama lain akibat dingin yang kurasakan. Kemudian tiba-tiba menjalar keinginan hebat dari dalam diriku akan ganja, heroin, putaw, atau apapun itu, karena kini aku tengah sakaw. Aku berteriak sekencang aku bisa, aku tabrakkan tubuhku ke tembok berkali-kali untuk mengusir semua ini, namun bukanlah hilang malah keadaan ini semakin menjadi-jadi. Aku cubit dan pukul diriku sendiri untuk mengabaikannya, namun tubuhku mati rasa. Aku jatuh tersungkur ke lantai dan dapat kurasakan sesuatu yang dingin dan berbentuk seperti buih sabun keluar dari mulutku. Aku juga dapat rasakan kesadaran yang semakin lama semakin hilang dari diriku, aku pingsan.
Aku telah berada di tempat lain ketika aku mendapatkan kembali kesadaranku. Dan di tempat ini aku tak sendirian, karena aku ditemani oleh mereka. Orang-orang yang aku kenali sebagai orangtuaku, orang-orang yang paling kecewa dengan jalan hidup yang aku jalani. Dan ketika mereka menyadari diriku yang telah tersadar, mereka mulai menangis, entah untuk apa. Mereka memanggil namaku berulang-ulang dan menggoyang-goyangkan tanganku. Inginku menyuruh mereka menghentikan kelakuan mereka itu, namun bibir dan lidahku kaku. Aku menjerit, walau kenyataannya mulutku hanya menganga tanpa suara. Aku terus melakukan hal tersebut, berharap mereka meyadarinya dan segera menghentikan aktivitas mereka yang sangat mengganggu tersebut. Bukannya keadaan membaik namun tiba-tiba dadaku terasa sesak dan kurasakan bahwa kesadaranku berangsur-angsur menghilang, lagi.
. . .
Aku melihatnya. Seorang laki-laki bertubuh tegap. Wajahnya tampak menyeringai. Dia mengucapkan salam.
Aku mengacuhkannya.
Dia menggoyang-goyangkan tubuhku dan mengucapkan salam, lagi.
Aku menoleh padanya. Tanpa menjawab salamnya aku bertanya, ”Siapakah dirimu?”.
Lelaki itu tersenyum, tampak jahat buatku. ”Aku adalah malaikat maut,”.
Seketika jantungku bergetar hebat. Darahku mendesir dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepala. Nafasku tertahan. Tubuhku lemas. Dengan mulut bergetar aku memberanikan diri bertanya padanya.
”Apakah kedatangan dirimu untuk mengambil nyawaku?”.
”Ya,” jawabnya tenang.
”Sudikah engkau memberiku kesempatan agar aku bisa memperbaiki kelakuanku?”
”Alangkah bodoh engkau,” jawab sang malaikat. ”Waktumu telah habis, napasmu dan masa hidupmu telah berakhir; tidak ada jalan lagi untuk memperoleh penangguhan,”.
”Kemana engkau akan membawaku?”.
”Kepada amal-amalmu yang telah engkau kerjakan sebelumnya. Dan juga ke tempat tinggal yang telah engkau dirikan sebelumnya,” jawab malaikat.
Tak kuasa aku membendung air mataku. Aku menangis sejadi-jadinya.
”Untuk apa kau menangis?” tanyanya.
”Bagaimana mungkin,” kataku. ”Aku belum pernah mempersiapkan amal baik dan rumah baik yang bagaimanapun”.
Malaikat pun menjawab, ”Kalau begitu, ke neraka, yang menggigit hingga ke pinggir-pinggir tulang”.
Lalu aku melihatnya menjadi seorang berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau ”busuk” dan mengenakan pakaian berwarna hitam. Dari mulut dan lubang hidungnya keluar jilatan api.
Tiba-tiba rasa sakit yang amat sangat menjalar ke seluruh tubuhku. Rasa sakit ini telah melumpuhkan akalku, membungkam lidahku, dan melemahkan seluruh ragaku. Aku ingin sekali meratap, berteriak, dan menjerit meminta tolong, namun aku tak kuasa lagi melakukan itu. Satu-satunya tenaga yang masih tersisa hanyalah suara lenguhan dan gemeretak yang terdengar sayup.
Warna kulitku pun berubah menjadi keabu-abuan menyerupai tanah liat, tanah yang menjadi sumber asal-usulku. Setiap pembuluh darah dicerabut bersamaan dengan menyebarnya rasa pedih ke seluruh permukaan dan bagian dalamnya, sehingga bola mataku terbelalak ke atas kelopak mataku, bibirku tertarik ke belakang, lidahku mengerut, kedua buah zakarku naik, dan ujung jemari berubah warna menjadi hitam kehijauan.
Kemudian satu per satu anggota tubuhku mati rasa. Mula-mula telapak kakiku menjadi dingin, kemudian betis dan paha. Setiap anggota badan merasakan sekarat demi sekarat, penderitaan demi penderitaan, dan itu terus terjadi berulang-ulang.
Pintu taubat telah ditutup untukku dan akupun diliputi oleh rasa sedih dan penyesalan. Penyesalan yang tentu tiada lagi akan berguna.
”... Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”. (QS. Yusuf: 21)
Penulis bertempat tinggal
di Komp. Bumi Agung Permai
|
|
|
|
 |
 |
|
 |
 |