 |
 |
|
 |
 |
|
| News /
Rubrik
/ Budaya |
|
| Mas Zul | | By redaksi |
| Minggu, 11-Mei-2008, 06:44:42 |
503 clicks |
 |
 |
|
|
| Dia berjalan tergesa-gesa menuju Kampus Untirta, dengan tas di punggungnya dan HP komunikator di telinga kanannya, dia sedang menelepon seseorang. |
|
|
Cerpen : Suci Mufaza
”Bro sudah ada dosen belum?” dengan suara ngos-ngosan.
“Gila Loe, sudah lewat 1 jam kalee. Cepetan di C 59,” jawab Combro, temen sekelasnya.
Dengan tampang tak bersalah, Ia langsung membuka pintu C 59, disambut dengan tatapan sinis dan cemoohan dari mahasiswa di ruangan itu.
”Baru pulang dari Hongkong Mas??” Alex meledek.
”Nggak usah masuk saja sekalian, sudah mau keluar kalee!!” tambah Wida.
Ruangan pun riuh, perkuliahan terhenti sejenak. Tapi tanpa malu sedikitpun, Ia langsung duduk dan cengengesan membuat orang-orang memicingkan mata padanya.
***
”Zul, gimana nih tugas film kita? Minggu depan kita jadi ke Banten Lama. Mana
bahan untuk narasi belum dapat lagi,” Cia mengeluh sambil menyodorkan buku iuran kelompok.
”Banten Lama?? Emang nggak ada objek wisata lain apa? Mau lihat apa disana, batu-batu, kuburan?? Kenapa nggak ke Anyer saja sih?” Zul terkejut.
“Asal Lo tau ya Zul, kita bikin film promosi bukan untuk hepi-hepi saja tapi ada sisi pengetahuannya juga, nilai historis BL lebih kentel daripada Anyer,” Edo menerangkan.
“Sudah, sekarang Lo bayar saja Rp. 17.000 untuk transport dan konsumsi. Lo kemana saja sih nggak pernah masuk?” tanya Cia.
”Sorry minggu kemarin kaki gue terkilir dan baru datang dari Singapur habis berobat. Rp 17.000 kan? Gampang,” jawabnya dengan gaya sok cool sambil mengeluarkan uang iuran dari dompetnya yang tebal.
”Ih...sombong amat sih!!” bisik Danti.
”Ok. Sekarang anak cowok cari bahan di internet dan anak cewek cari bahan di perpus,” Ika membagi tugas.
***
Seminggu kemudian di Halte Pasundan...
”Halo Zul, Lo dimana? Cepat datang kita kesiangan nih!” teriak Fadlan di telepon.
”Ya 5 menit lagi gue nyampe, tol macet,” jawab Zul.
”Busyet dah, hari gini masih di tol? Ni orang niat kagak sih??” Cia bergumam.
Jam telah menunjukkan pukul 07.25, semua anggota telah kumpul bahkan angkot pun telah disewa. Hanya tinggal menunggu Zul. Ya...Dia memang menyebalkan! Pantas saja dijuluki Mr. Late Bokis oleh teman-teman sekelasnya. Selain sering telat, Ia juga bermulut besar. Sombooong bangettt.
Suasana di halte penuh gelisah, berbagai cacian pada Zul terlepas dari mulut teman-teman sekelompoknya, baik Fadlan, Combro, Fajar, Cia, Edo, Bang Roy, Lia, Danti, Tio sampai Ika yang seorang aktifis LDK. 5 menit, 10 menit, hingga hampir setengah jam Zul belum juga muncul.
”He Zul 5 menit dari Hongkong, sudah setengah jam kita nunggu Lo! Kalau 15 menit lagi Lo nggak datang juga, kita tinggalkan!” Edo menelepon lagi menegaskan.
”Duh jangan tinggal gue dong. Gue kan sudah jauh-jauh datang dari Tangerang,” Zul memelas.
”Bodo Amat!!!” karena kesal Edo menutup teleponnya.
15 menit berlalu, saat akan berangkat tiba-tiba Zul datang tergopoh-gopoh.
”Sorry Friend. Sudah lama nunggu ya?” sapa Zul.
”Ih nanya lagi. Nggak nyadar banget sih!!” walaupun tidak terucap dari mulut mereka namun ekspresi itu tergambar jelas di wajah yang kompak memalingkan muka saat Zul datang. Suasana hening. Sopir angkot pun langsung menjalankan mobilnya menuju Banten Lama tanpa dikomandoi.
Sesampainya disana pembuatan film promosi pun berjalan lancar walaupun cuaca begitu panas dan gersang. Zul yang berperan sebagai sutradara, sibuk mengatur para pemainnya. Ia memang hobi mengatur orang. Meski teman sekelompoknya tidak suka di atur Zul, tapi demi tugas mereka rela menjadi budak Zul sehari itu.
Senja pun mulai tenggelam. Setelah menyelesaikan tugas film itu, mereka pulang ke tempat tinggalnya masing-masing.
***
Tiba saatnya tiap kelompok mempresentasikan filmnya. Ada film promosi Banten Lama, Ocean Park Tangerang, Citaman Pandeglang, Anyer, dan Vihara Tangerang. Sangat menarik, anekaragam keunikan kreatifitas diperlihatkan oleh setiap kelompok. Bu Nia, Dosen Humas, sangat kebingungan menentukan kelompok terbaik. Setelah beberapa saat, beliau menentukan bahwa yang terbaik jatuh pada kelompok Ocean Park. Kelas pun ramai dengan teriakan gembira dan kekecewaan. Perkuliahanpun berakhir.
”Tuh kan. Apa kata gue. JANGAN KE BANTEN LAMA!!. Kalah kan??” Zul menyalahkan teman-temannya.
”Sudahlah. Menang kalah ini kan kerja keras kita bersama,” tutur Cia bijak.
”Kita? Lo saja kalee, gue kagak,” balas Zul.
“Maksud Lo apa??” Ika emosi. Situasi pun memanas.
”Sudah deh...lebih baik kita lihat lagi hasil film kita! Zul buka dong leptop Lo!” Bang Roy mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana.
”Ogah...BT gue. Makan tuh film!!” sentak Zul.
”Eh Zul nggak usah snewen gitu dong, kan sutradaranya juga elo, jadi Lo juga...” kata-kata Cia terpotong.
”Iya, Lo semua pada kere amat sih!! Cuma bisa ke Banten Lama doang. Ya pasti gratislah wong cuma lihat batu-batu, makam-makam dan bangunan-bangunan yang sudah hancur,” ejek Zul.
”Eh Zul kita tahu Lo tajir, tapi Lo jangan menyalahkan kita karena nggak punya duit. Kenapa Lo nggak bayarin kita saja ke Anyer?” bela Ika.
”Bayarin Lo semua?? Gila Lo...Oh gue maklum jangankan ke Anyer, kuliah saja Lo hidup dari beasiswa. Kasihan banget sih Lo!!” ejek Zul sambil menunjuk-nunjuk Ika.
Suasana begitu genting. Ika yang saat itu merasa dipermalukan olehnya, menangis pilu. Baru kali ini Ia merasa sakit hati
”Berarti si Ika pintar nggak kayak Lo. Dia bisa kuliah karena prestasinya sedangkan Lo cuma bisa membanggakan harta orang tua Lo doang. Gue lebih bangga jadi teman Ika daripada jadi temen Lo,” sambung Cia.
Karena kesalnya Zul meninggalkan kelas sambil menendang kursi di depannya hingga terpental.
***
Sebulan kemudian...
”Temen-temen...Zul sudah 2 minggu tidak kuliah. Gue dapat kabar Ayahnya meninggal dan Zul di Rumah Sakit karena Demam Berdarah. Kita tengok yuk!!” seru Ria di depan kelas berlagak seperti diplomat. Ria memang sudah lama naksir Zul, entah dari segi apanya.
”Ups...Mr Late Bokis kita ke sengat Aedes Aegepthy dari Singapur ya?? (Ha...Ha..)” Alex meledek.
Berbagai opini pro kontra perihal jengukan ke Zul meramaikan kelas. Tiba-tiba...
”Temen-teman. Zul adalah teman kita juga. Sekarang sedang sakit dan kita wajib menjenguknya. Walaupun kita pernah disakiti Zul tapi kita harus memaafkannya, Ia butuh dukungan moril dari kita. Seperti Rasulullah yang memafkan dan menjenguk orang yang pernah meludahinya,” ucap Ika menengahi keributan.
”Tapi Ika kita kan bukan Rasul. Lagi pula Zul tuh rese abiz. Biarkan saja Dia sakit supaya sadar!!” bantah Fadlan.
”Astagfirullah...teman-teman nggak boleh bicara seperti itu. Biarkan Allah yang menghisabnya bukan kita!” Daus berkhotbah.
Akhirnya semua mahasiswa itupun setuju untuk menjenguk Zul. Namun diwakilkan 3 orang saja yaitu Ika, Alex dan Ria. Kemudian iuran untuk Zul pun dikoordinir.
***
Minggu, jam 08.00 wakil kelas itupun berangkat menjenguk Zul. Setibanya di RS dimana Zul dirawat, nampak sekujur tubuh Zul berbintik merah dan selang infus tertancap di lengannya. Mereka yang menjenguknya harus berbaju kurung bermasker yang telah disediakan RS.
”Assalamu’alaikum...Zul gimana keadaan Lo, sudah baikan?” sapa Alex.
“Duh Mas Zul yang sipit kayak Toming Tse. Kok bisa ya terserang Demam Berdarah? Kalau begitu Ria pengen deh jadi Aedes Aegepthy, supaya bisa sentuh-sentuh Mas. (he..he..),” canda Ria cekikikan.
”Hushh...ini rumah sakit Bu. Lo harus jaga sikap!” Ika mengingatkan.
Saat melihat kedatangan teman-temannya, Zul begitu terharu. Apalagi saat yang dilihatnya Ika, orang yang pernah dibuatnya menangis. Tiba-tiba Zul meneteskan air mata yang tak terbedung, merasa bersalah.
”Ka...maafkan kesalahan gue. Gue nyesel banget sudah buat Lo menangis. Sekarang Allah menghukum gue, Ayah meninggal dan sekarang gue nggak punya apa-apa lagi semua bisnis ayah bangkrut., nggak tahu lagi gimana biaya kuliah gue. Leptop saja dijual untuk biaya pengobatan gue (hiks...hiks...). Kalian berhak tertawa atas sakit hati yang pernah gue perbuat pada kalian. Gue memang manusia Sombong, Angkuh. Ya...Gaffur,” ucap Zul terbata-bata sambil terus-menerus menangis.
Mendengar kata penyesalan Zul yang begitu dalam, ruangan pun banjir dengan tangisan mereka.
”Sabar ya Zul! Lo harus bangkit untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi! Gue turut iba atas cobaan Lo,” Alex menegarkan Zul. ***
|
|
|
|
 |
 |
|
 |
 |